JANGAN REMEHKAN KEBAIKAN SEKECIL APA PUN

Judul Rubrik
Edisi
Penulis & Editor
Korektor
Pembaca
Paraf
MUDA HIJRAH
12
Husni Mubarok
Ust. Faishol

Hari,Tanggal:

Waktu: 10 Menit
Tempat:









Pembaca yang berbahagia, hendaknya kita jangan meremehkan berbuat baik sekecil apa pun walau hanya dengan senyum manis tatkala bertemu, begitu pula walau hanya membantu urusan saudara kita yang ringan.
Karena teladan yang mulia, Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda di dalam sebuah haditsnya.
وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ
Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi.
Sahabat hijrah, Kebaikan, walaupun sedikit tetap kebaikan yang dicatat di sisi Allah subhanahu wata'ala sebagai kebaikan. Lagi pula sahabat tentu sudah tidak asing dengan kata pepatah,’ sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit,’ begitu juga dengan amal-amal baik kita, sekecil apa pun akan bernilai pahala, dan jika kebaikan-kebaikan yang kecil dan kita anggap remeh itu jika dilakukan dengan ikhlas pasti Allah subhanahu wata'ala akan memberikan pahala yang berlipat, dan jika kita lakukan dengan terus menerus, maka pahalanya akan semakin besar.
Sebaliknya, banyak sekali orang yang meremehkan dosa karena dianggap dosa kecil yang mudah diampuni oleh Allah subhanahu wata'ala, sahabat hijrah, ingatlah pepatah ulama salaf,’jangan kau lihat dosamu yang remeh, tapi lihat kepada dzat yang kau bermaksiat kepada-Nya.
Daripada melihat remehnya dosa, kita hendaknya melihat siapa Dzat yang kita durhakai, Allah subhanahu wata'ala. Lagi pula ketika kita meremehkan dosa tersebut, maka berarti kita meremehkan Allah subhanahu wata'ala. Naudzubillahi min dzalik.
Sahabat hijrah, berbuat baik itu bisa kita lakukan dalam bentuk apa pun, kapan pun dan dimana pun. Tidak perlu beramal dengan amal yang terlihat wah,
Jika kita tidak bisa menolong atau bersedekah dengan harta, maka kita bisa dengan tenaga, jika tidak bisa dengan tenaga, maka bisa dengan ide, jika tidak bisa, maka dengan doa. tak ada kata untuk tidak beramal. Karena Allah subhanahu wata'ala membentangkan semua kesempatan kepada kita.
Nah sahabat hijrah, sepertinya kita harus menghafal sebuah hadits yang diriwayatkan oleh dua Imam Hadits besar yakni Imam Bukhori dan Imam Muslim tentang kebaikan yang berbuah kebaikan. Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda.
وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ
Siapa yang menolong saudaranya dalam memenuhi kebutuhannya, maka Allah pun akan menolongnya dalam kebutuhannya.”
Ini janji Allah subhanahu wata'ala untuk kita, dan Allah subhanahu wata'ala mustahil menyalahi janji. Jika kita memberi kemudahan kepada orang lain, maka Allah subhanahu wata'ala akan memudahkan urusan kita.
Kemudian sahabat hijrah, di dalam hadits yang lain Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda.
يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا ، وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ
Wahai para wanita muslimah!, Janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan pemberian tetangganya walau pemberiannya hanyalah kaki kambing.
Hadits riwayat Bukhori dan Muslim.
Walaupun hadits tersebut ditujukan kepada perempuan, tapi sejatinya nasihat itu untuk kita semua. kadang kita meremehkan pemberian orang lain hanya karena nilainya yang sepele. Padahal kita hendaknya menghargainya, karena sekecil apa pun pemberian, di sisi Allah subhanahu wata'ala akan dicatat sebagai kebaikan.
Sahabat hijrah, salah satu bentuk kebaikan yang mudah kita kerjakan adalah dengan tersenyum. Ya, tersenyum. kita bisa tersenyum tanpa perlu energy yang besar, hanya perlu menarik ujung bibir kita, tidak perlu bayar dan tidak perlu modal, semudah membalikan telapak tangan.
Jadi ketika bertemu saudara kita hendaklah dengan wajah yang tersenyum, bukan cemberut. Karena sikap seperti termasuk pula dalam memberikan kebahagiaan pada orang lain. Membuat orang lain bahagia adalah bagian dari kebaikan dan termasuk bentuk berbuat baik pada orang lain.
 Asalkan, senyum di sini benar penempatannya, dan benar tujuan asalnya, karena tidak semua jenis senyum itu berpahala, ada senyum ejekan dan senyum hinaan yang menyakitkan, ada juga senyum mesum yang berangkat dari birahi,
Kenapa kita diharuskan memperhatikan kebaikan sekecil apa pun?. karena sahabat kita tidak tahu amal mana yang diterima oleh Allah subhanahu wata'ala. boleh jadi karena amal yang kita anggap remeh itulah sebab dimasukannya kita ke dalam surga. atau boleh jadi juga, diantara amal-amal tersebut, amal kecil tersebut yang diterima di sisi Allah subhanahu wata'ala.
Berkaitan hal itu, mari kita simak kisah menggugah dari seorang istri Khalifah di zaman dinasti Muawiyah.
Zubaidah istri Harun Ar-Rasyid mempunyai kebaikan yang sangat besar bagi umat. Beliau membuat aliran air yang sangat panjang untuk suplai air kepada jamaah haji di Mina. Sehingga terkenal dalam sejarah dengan sebutan Mata Air Zubaidah.
Disebut dalam tarikh Baghdadi, setelah beliau wafat, Imam Abdullah Ibnu al-Mubarok bertemu Zubaidah dalam mimpi. Ibnu Mubarok kemudian bertanya. “Apa yang telah Allah perbuat untukmu?.”
Zubaidah menjawab,“Aku mendapatkan ampunan-Nya.”
Lalu ditanyakan kepadanya.“Apakah karena mata air untuk jamaah haji?.”
Beliau menjawab. “Wallahi tidak, bukan karena itu, tetapi karena dua rakaat di waktu malam yang tidak pernah aku tinggalkan.”
Dua rakaat di waktu malam!, Sungguh sesuatu yang tidak terduga.
Nah, sahabat.  kita tidak tahu amalan mana yang mendatangkan ampunan Allah. Maka, jangan remehkan kebaikan sekecil apapun, Lakukanlah kebaikan sekecil apapun itu. Lakukan di setiap kesempatan. Jika kita mampu melakukan kebaikan tersebut,maka lakukanlah!. Kita takkan merugi.Karena Kita tidak tahu amalan mana yang mendatangkan rahmat Allah.
Sahabat hijrah, sebelum kita tutup pertemuan kita, marilah kita menyimak apa yang Allah subhanahu wata'ala firmankan di dalam quran surat an-Nahl ayat 96.
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ ۖ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ
 Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.”
Ingatlah sahabat, amalan kita kekal di sisi Allah, bahkan nilainya lebih baik dari nilai emas, perak atau saldo yang tersimpan di rekening kita. walaupun itu hanya senyuman kepada teman atau mengambilkan barang yang jatuh milik teman.
Kemudian dilanjutkan di ayat selanjutnya.
 مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Akhir kalam, semoga kita semua dimudahkan oleh Allah subhanahu wata'ala dalam melakukan kebaikan dimana pun dan kapanpun.
Wallahu alam.
wassalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh.


Tidak Berlebihan Dalam Beragama

Sikap ghuluw atau melampaui batas atau berlebih-berlebihan dalam agama adalah sikap yang tercela dan dilarang oleh syariat. Sikap ini tidak akan mendatangkan kebaikan bagi pelakunya, juga tidak akan membuahkan hasil yang baik dalam segala urusan.Terlebih lagi dalam urusan agama.
Banyak sekali dalil-dalil al-Qur’ân dan Sunnah yang memperingatkan dan mengharamkan ghuluw atau sikap melampaui batas tersebut.
Salah satunya adalah seperti yang Allah  sebutkan di dalam quran surat al-Maidah ayat 77.
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ
 “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara tidak benar dalam agamamu.
Kemudian juga di dalam hadits yang diriwayatkan oleh an-Nasa’I dan Ibnu Majjah, Rasulullah  bersabda.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ
Wahai sekalian manusia, jauhilah sikap ghuluw atau melampaui batas dalam agama. Sesungguhnya perkara yang membinasakan umat sebelum kalian adalah sikap ghuluw mereka dalam agama.
Nah, seperti apa sih yang dimaksud sifat ghuluw dalam beragama. sikap ghuluw dalam beragama berarti perbuatan yang berlebih-lebihan melampaui batas yang ditetapkan oleh Syariat, baik berupa keyakinan atau perbuatan.
Selain berlebih-lebihan, ada juga istilah lain yang bisa kita gunakan.
Yang pertama, bersikap ekstrim.
Hal ini sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Rasulullah  bersabda.
هَلَكَ المُتَنَطِّعُوْنَ
Yang artinya. Celakalah orang-orang yang ekstrim!” dan Beliau mengucapkannya tiga kali.
Kemudian yang kedua, ghuluw bisa berarti Tasyaddud atau Memberat-Beratkan Diri.
Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah  bersabda di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud.
لاَ تُشَدِّدُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَيُشَدِّدُ اللهُ عَلَيْكُمْ
Janganlah kamu memberat-beratkan dirimu sendiri, sehingga Allah Azza wa Jalla akan memberatkan dirimu.
Kemudian juga di dalam riwayat yang lain disebutkan.
إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ اَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ
Sesungguhnya agama ini mudah, Dan tiada seseorang yang mencoba mempersulit diri dalam agama ini melainkan ia pasti kalah.
Kemudian yang ketiga, Ghuluw bisa juga berarti I’tida atau melampui batas ketentuan syariat.
Hal ini sebagaimana yang Allah  firmankan di dalam quran surat al-Baqoroh ayat 190.
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Kemudian juga di dalam quran surat al-baqoroh ayat 187.
تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا
Itulah batasan-batasan hukum Allah  , maka janganlah kalian melampauinya.
Selanjutnya yang keempat, ghuluw bisa juga berarti takalluf atau memaksakan diri,
Nah, mungkin kita bertanya-tanya, apa sih yang menyebabkan sikap berlebihan dalam Bergama?
Setidaknya, sikap berlebihan dalam beragama berangkat dari beberapa sebab.
Yang pertama. Kebodohan dalam agama.  Ini meliputi kebodohan terhadap tujuan inti syariat Islam dan kaidah-kaidahnya serta kebodohan dalam memahami nash-nash al-Qur’ân dan Sunnah. Sehingga kita lihat sebagian pemuda yang memiliki semangat akan tetapi masih dangkal pemahaman dan ilmunya terjebak dalam sikap ghuluw.
Kemudian sebab ghuluw yang kedua adalah taklid atau ikut-ikutan. Taqlîd hakikatnya adalah kebodohan. Termasuk di antaranya adalah mengikuti secara membabi-buta adat istiadat manusia yang bertentangan dengan syariat Islam serta mengikuti tokoh-tokoh adat yang menyesatkan. Kebanyakan sikap ghuluw dalam agama yang berlaku di tengah-tengah masyarakat berasal dari sikap taklid.
Yang ketiga, karena hawa nafsu. Timbangan hawa nafsu ini adalah akal dan perasaan. Sementara akal dan perasaan tanpa bimbingan wahyu akan bersifat liar dan keluar dari batasan-batasan syariat.
Dan sebab sikap ghuluw yang keempat adalah, Berdalil dengan hadits-hadits lemah dan palsu. Hadits-hadits lemah dan palsu tidak bisa dijadikan sandaran hukum syar’i. Dan pada umumnya hadits-hadits tersebut dikarang dan dibuat-buat bertujuan menambah semangat beribadah atau untuk memperkuat sebuah keyakinan sesat.
Selain itu sahabat, sikap ghuluw ini juga banyak macamnya. secara garis besar ghuluw itu ada dalam bentuk keyakinan, perkataan dan amal perbuatan.
Adapun Ghuluw dalam bentuk keyakinan misalnya sikap berlebih-lebihan terhadap para malaikat, Nabi dan orang-orang shalih dengan meyakini mereka sebagai tuhan. Atau meyakini para wali dan orang-orang shalih sebagai orang-orang yang ma’shûm alias bersih dari dosa.
Sedangkan Ghuluw dalam bentuk ucapan misalnya, puji-pujian yang berlebih-lebihan terhadap seseorang, doa-doa dan dzikir-dzikir yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah  dan para sahabatnya.
Ghuluw dalam bentuk amal perbuatan misalnya mengikuti was-was dalam bersuci atau ketika hendak bertakbiratulihrom. sehingga kita dapati seseorang berulang-ulang berwudhu’ karena mengikuti waswas. Demikian seseorang yang berulang-ulang bertakbîratul ihrâm karena anggapan belum sesuai dengan niat dalam hatinya.
Dan yang terakhir, ghuluw dalam semangat. Jenis ini biasanya merasuki para pemuda yang memiliki semangat keagamaan yang berlebih-lebihan, akan tetapi dangkal pemahaman agamanya. Sehingga mereka jatuh dalam sikap sembrono dalam menjatuhkan vonis kafir, fasiq dan bid’ah secara sembarangan. Nah, sahabat, makanya kita harus hati-hati berkaitan dengan hal ini.
Virus ghuluw ini biasanya diawali dengan sesuatu yang sepele namun dalam waktu singkat akan digandrungi sehingga kemudian meluas. Orang-orang yang bersikap ghuluw dalam agama akan berbicara tentang agama tanpa ilmu, sehingga akhirnya mereka sesat dan menyesatkan orang lain dari jalan yang lurus. Sikap ghuluw inilah yang merupakan penyebab munculnya seluruh penyimpangan dalam agama, demikian juga penyimpangan dalam sikap dan perbuatan.
Islam telah menentang semua perkara yang mengarah kepada sikap ghuluw atau berlebih-lebihan.
Makanya  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  berkata. “Agama Allah Azza wa Jalla adalah agama pertengahan, antara sikap ekstrim atau berlebih-lebihan dan sikap moderat atau terlalu longgar.
Jadi kita harus berada di tengah-tengah, kita umpamakan sisi kanan kita sikap ektrem, dan sisi kiri kita sikap moderat atau terlalu longgar. Kita jangan sampai condong ke kiri atau ke kanan, kita harus ajeg.
Cobalah kita lihat sahabat, ada diantara saudara kita yang ektrem sampai-sampai gampang memvonis kafir. ada juga yang moderat sampai-sampai serba membolehkan dan meremehkan hal yang dilarang. Bahkan banyak kaum muda yang jauh dari islam, islam hanya nangkring di KTP saja, bukan dijadikan sebagai ideology hidup.
Mari kita berdoa kepada Allah  semoga Allah  menolong kita untuk selalu istiqomah dalam kebaikan, dan juga berdoa semoga terhindar dari sikap ghuluw dalam beramal dan berkeyakinan,
Wallahu a’lam.

Menikah Dengan Wanita Sholihah Dan Pendidik

Ada Faktor penting yang membantu seorang Ayah mendidik anaknya, yaitu istri yang sholihah yang dapat memahami peran, dan fungsinya di dalam mengurus rumah tangga. Seorang istri merupakan tiang yang menopang terkuat dalam tugas ini, mendasar dalam pekerjaan ini. Pekerjaannya ini mempunyai peran sejarah dalam kehidupan masyarakat. Darinya akan lahir generasi pembaharu masyarakat, yang akan memimpin umat menuju kebaikan dan kekuatan.
Harus ada pendamping seorang ayah yang turut menjaga. Seorang ayah yang baik agamanya saja tidak cukup untuk mengamankan ini. Harus ada kedua duanya yaitu ayah dan ibu untuk saling bekerja mendidik anak-anaknya. Akan percuma saja jika Ayah bekerja sendiri tanpa dibantu sosok ibu, guna menjaga generasinya di masa depan.
Hal ini harus dipahami betul oleh kita. Upaya pertama yang harus menjadi fokus dalah rumah, kemudian istri yang kemudian ibu, lalu anak-anak dan keluarga. Harus menjadi perhatian yang serius memilih wanita Muslimah untuk membangun rumah tangga Islami.
Wanita yang terbaik untuk dinikahi adalah wanita yang mempunyai akidah agama, sholihah, bertakwa, dan selalu bertaubat kepada Allohu Ta’ala dimanapun ia berada.
Wanita semacam ini akan menyenangkan hati, bisa dipercaya untuk menjaga diri dan menjaga harta suaminya, serta mampu mendidik anak-anaknya.
Disamping melengkapi kebutuhan jasmani ibu dengan karakter seperti ini, akan memberikan tambahan keimanan bagi seluruh keluarga.
Terdapat petunjuk Nabi Muhammad  , yang diriwayatkan oleh Ibnu Adiy dan Ibnu Asakir, dari Ai’syah  bahwa Rosululloh  .
“Pilihlah tempat yang baik untuk menyemai nutfahmu atau spermamu, karena sesunguhnya wanita itu akan melahirkan semisal dengan saudara-saudari mereka”.
Imam Bukhori, dari Abu Huroiroh  bahwa Nabi 
“Sebaik-baik wanita yang menunggang unta adalah wanita Quraisy. Mereka memperlakukan anak-anak mereka dengan penuh kasih saying, serta pandai menjaga kehormatan dan harta suami mereka”.
Pekerjaan wanita setara dengan jihad kaum laki-laki di medan perang, dan sholat jum’at di masjid. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shohih-nya, Asma binti Yazid pernah datang menghadap Nabi  dan berkata,
“Aku adalah seorang duta dari sekian banyak wanita Muslimah yang ada dibelakangku. Mereka semua menyatakan dan berpendapat sepertiku. Sesungguhnya Alloh telah mengutusmu kepada kaum lelaki dan wanita, sehinggapun kami beriman kepadamu dan mengikutimu. Namun, kami sebagai kaum wanita punya keterbatasan dan banyak halangan, serta hanya banyak duduk di rumah. Sementara kaum pria mempunyai kelebihan, bisa melaksanakan sholat jum’at, mengiringi jenazah serta jihad. Jika mereka keluar untuk berjihad, maka kami akan menjagakan harta mereka, dan yang mengurus anak-anak mereka. Apakah kami juga mendapatkan pahala yang serupa, ya Rosululloh?”. Rosululloh  kemudian menoleh kepada para shahabat Beliau dan bertanya, “Apakah kalian mendengar perkataan wanita yang mempunyai pertanyaan sangat baik ini mengenai urusan agamanya?”. Para shahabat menjawab, “Tentu ya Rosululloh”. Rosululloh  kemudian bersabda ,“Sekarang pulanglah engkau wahai Asma’.
Beritahukan kepada wanita-wanita yang ada dibelakangmu, bahwa perlakuan baik yang dilakukan oleh salah seorang diantara kalian kepada suaminya, mencari keridhoannya, dan selalu mematuhinya, sebanding dengan apa yang kamu sebutkan tadi”.
Mengutip pendapat Umar Bin Khoththob  yang menyatakan,
“Hak seorang anak yang pertama-tama adalah mendapatkan seorang ibu yang sesuai dengan pilihannya, memilih wanita yang melahirkannya. Yaitu seorang wanita yang mempunyai kecantikan, mulia, beragama, menjaga kesuciannya, pandai mengatur urusan rumah tangga, berakhlak baik, mempunyai mentalitas yang baik dan sempurna, serta mematuhi suaminya dalam segala keadaan”.
Rosululloh  juga pernah membenarkan pandangan sahabat Jabir bin Abdillah, berkenaan dengan memilih istri untuk memerankan fungsi sebagai pendidik, untuk membina saudari-saudari Jabir yang masih belia.
Abu Dawud meriwayatkan dari Jabir dalam sebuah hadist, Rosululloh  bertanya kepada Jabir, “Apakah ia menikahi seorang gadis atau janda”. Lalu Jabir menjawab, “Ia menikahi seorang janda”. Rosulullah  kemudian bersabda, “Kenapa tidak memilih yang gadis, yang engkau bisa mengajaknya bergurau, begitu juga ia bergurau denganmu?”. Jabir menjawab, “Ya Rosululloh, orang tuaku meningggal, sedangkan aku masih punya saudari yang masih kecil. Maka, aku tidak suka menikah dengan para gadis yang berusia sama seperti mereka, karena aku khawatir istriku nanti tidak bisa mendidik mereka, dan tidak bisa mengurus mereka. Akhirnya akupun memilih menikahi seorang janda, dengan berharap ia bisa mengurus serta mendidik saudari-saudariku yang masih kecil”.
Seorang istri sholihah merupakan simpanan sesunguhnya yang bisa kita jadikan sebagai tabungan di dunia dan diakhirat, saat turun ayat “Walladzina yaknizuna”, yang artinya “Orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya dijalan Alloh”. Ketika para shohabat bersama Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam dalam satu perjalanan, kemudaian ada shohabat yang berkata, “Ayat ini turun mengenai emas dan perak. Andaikan kami tahu ada harta yang lebih baik dari ini, tentu kami akan ambil. Rosululloh kemudian bersabda, “Yang lebih utama lagi adalah lidah yang berdzikir, hati yang bersyukur, dan istri yang sholihah yang akan membantu seorang Mukmin untuk memelihara keimanannya.
Ya Allah jadikanlah keluarga kami sebagai keluarga Ahli Syurga, Ahli kebajikan dan selalu mengukuti perintahmu. Aamiin.
Wallohu a’lam.

UMUR UNTUK AMAL



Pembaca yang dimuliakan Allah subhanahu wata'ala, manusia memiliki fithrah mencintai harta dan menyukai umur yang panjang. Bahkan semakin usia bertambah rasa cinta terhadap keduanya semakin besar. Tidak percaya, mari kita simak apa yang dikatakan oleh Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim.
يَكْبَرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبَرُ مَعَهُ اثْنَانِ حُبُّ الْمَالِ وَطُولُ الْعُمُرِ
Anak Adam semakin tua, dan dua perkara semakin besar juga bersamanya, cinta harta dan panjang umur.
Sahabat, umur adalah modal dalam hidup kita, ya, modal untuk beramal demi kehidupan yang lebih panjang, kehidupan di akhirat. Umur adalah modal untuk memperoleh kedudukan yang tinggi di sisi Allah subhanahu wata'ala.
Suatu ketika, ada seorang laki-laki yang datang dan bertanya kepada Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam.
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ
“Wahai Rasûlullâh, siapakah manusia yang terbaik?.”
Lalu apa jawab Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam. beliau menjawab.
  مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ
“Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.”
Kemudian orang itu bertanya lagi. فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ , “Lalu siapakah orang yang terburuk?”
Kemudian Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam menjawab.
 مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ
 “Orang yang berumur panjang dan buruk amalnya.
Hadits riwayat Ahmad, tirmidzi dan baihaqi.
Nah sahabat, semoga hadits ini menjadi pelecut untuk kita, supaya kita selalu berada di jalan kebenaran, supaya kita mengisi masa muda hingga akhir hayat kita dengan kebaikan dan amal shalih.
Kita berlindung kepada Allah subhanahu wata'ala jadi orang yang buruk, sudah diberi umur panjang, tapi menggunakan umurnya dengan keburukan.
Selain itu sahabat, kita juga harus tahu bahwa semakin panjang umur kita, semakin banyak hisab dan pertanggung jawaban amal kita, semakin banyak harta kita, semakin banyak hisab terhadap harta tersebut, dan semakin banyak kenikmatan dan anugerah, semakin ketat hisab Allah subhanahu wata'ala. tentunya ini dikecualikan untuk orang-orang yang beramal shalih.
Sahabat hijrah, ada satu lagi kisah menarik yang harus kita simak.
Dikisahkan ada tiga orang dari suku Bani ‘Udzrah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mereka masuk Islam.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda kepada para sahabatnya.“Siapakah yang mau membantuku untuk mencukupi kebutuhan mereka?.” maksudnya adalah tiga orang lelaki tadi.
 Thalhah berkata.“Aku”. Maka ketiga lelaki itu pun mengikuti thalhah.
Singkat cerita, Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam mengirim pasukan, salah seorang dari ketiga orang itu ikut berperang dan mati syahid.
Kemudian Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam mengirim pasukan lagi, salah seorang dari mereka ikut dan mati syahid menyusul temannya yang pertama.
Kemudian orang yang ketiga mati di atas tempat tidurnya, dia tidak sempat mengikuti peperangan seperti dua temannya yang telah meninggal duluan.
Suatu ketika Thalhah bermimpi bahwa ketiga orang itu masuk surga. Hanya saja, derajat mereka berbeda-beda. Dan ternyata yang paling tinggi derajatnya adalah lelaki yang meninggal di tempat tidurnya, disusul orang yang mati syahid di peperangan kedua, dan selanjutnya yang pertama.
Nah sahabat, karena penasaran, Abu Thalhah mendatangi Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam dan menanyakan hal itu kepada beliau.
Kemudian Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam menjawab. “Tidak ada seorangpun yang lebih utama di sisi Allâh daripada seorang Mukmin yang diberi umur panjang dalam agama Islam untuk bertasbîh, bertakbîr, dan bertahlîl untukNya.
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Ya’la dengan sanad yang shahih.
Nah, kenapa orang yang ketiga bisa mendapatkan derajat yang tinggi?, karena dia memiliki umur panjang setelah masuk islam dibanding kedua temannya, kemudian menggunakan umurnya untuk beramal shalih.
Hadits ini bukan berarti meremehkan amal dan pahala jihad. tapi hadits ini memberi gambaran betapa pentingnya menggunakan umur dan waktu untuk beramal.
Sementara di dalam riwayat Ibnu Majjah disebutkan bahwa ada dua orang lelaki yang masuk islam, kemudian yang pertama meninggal dunia dalam peperangan, alias mati syahid, kemudian yang kedua meninggal setahun kemudian. akan tetapi ada sahabat Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam yang bermimpi bahwa orang yang meninggal belakangan memiliki derajat yang lebih tinggi di surga.
Kemudian Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam mengatakan bahwa derajat itu diperoleh karena orang yang kedua menemui bulan Ramadhan setelah keislamannya, sehingga dia shalat setiap malam ramadhan. sementara yang pertama tidak menemui bulan Ramadhan.
Subhanallah.
Nah sahabat, ayo kita sama-sama mempergunakan umur kita untuk amal kebaikan, karena umur kita hanya sedikit dibanding dengan akhirat yang tidak ada ujungnya. Belum lagi umur kita tidak semuanya kita gunakan untuk amal shalih.
Jumlah umur yang dapat digunakan manusia guna memperoleh kebaikan tidak mencapai dua puluh tahun dari seluruh umurnya. kok bisa?. Mari kita kalkulasikan, Jika salah seorang berumur enam puluh tahun, maka sepertiga umur digunakan untuk tidur, ini jika dihitung delapan jam tidur perhari, maka ia tidur sepertiga dari harinya,
Belum lagi waktu untuk makan, waktu untuk buang hajat serta perbuatan manusiawi lainnya, maka itu semua bisa menjadi hitungan yang lama jika kita kalkulasikan dengan 60 tahun umur kita.
Nah, disini kita perlu memenej waktu, kita juga perlu memperpanjang umur kita?. memangnya bisa, sangat bisa. Walaupun kita sudah meninggal dunia, tapi pahala melebihi umur kita. Atau memang umurnya dipanjangkan oleh Allah subhanahu wata'ala.
Salah satu amalan yang bisa memberkahi umur kita adalah dengan melakukan silaturahim. karena silaturahim memberi kelapangan  rizki dan berkahnya usia.
Selain itu sahabat, masih banyak amalan yang pahalanya bisa mengalir kepada kita meskipun kita sudah tidak ada lagi di dunia. Seperti mengajarkan atau menyuruh kepada kebaikan kepada orang lain. Ketika orang yang kita ajari tersebut mengamalkan apa yang telah kita ajarkan kepada mereka, maka kita akan terus mendapatkan pahala yang sama mesikipun jasad dan nyawa telah berpisah.
Hal ini sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Dawud.
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa mengajak manusia kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.  Dan barangsiapa mengajak manusia kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”
Nah, sahabat, tentunya hal ini menjadi pelecut bagi kita semua untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan, terutama dalam menebar kebaikan dan hidayah terhadap sesama manusia.
Semoga kita selalu istiqomah di dalam keimanan dan keislaman sepanjang usia kita.
Wallahu a’lam.
Wassalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Menjadi Pemuda Yang Unggul

Pemuda Hijrah – Sahabat hijrah, kita sebagai pemuda adalah harapan bagi masa depan islam. Oleh karena itulah kita selayaknya menjadi penggerak perubahan, menjadi titik tolak perubahan peradaban.
Dan untuk menjadi pemuda yang berkualitas, tentunya kita harus menjadikan nilai-nilai iman sebagai landasan, selain itu, kita harus menjadi pemuda yang unggul. Pemuda yang memiliki kelebihan dan kualitas sehingga bisa menjadi agen perubahan.
Pemuda yang unggul itu memiliki karakter yang khas. Apa saja itu?. Nah sahabat hijrah, di rubric pemuda hijrah kali ini kita akan mengupas tentang karakter pemuda yang unggul.
Yang pertama, pemuda unggul itu pemuda yang memanfaatkan potensi mereka.
Sahabat, banyak kita lihat remaja atau pemuda yang jauh dari nilai-nilai islam, mereka lebih memilih jalan hidup yang menurut mereka menyenangkan, mereka menghabiskan usia muda dan kesehatan mereka dengan hura-hura. Sampai-sampai ada slogan, muda hura-hura, tua kaya raya, mati masuk surga,
Coba bayangkan sahabat, mungkinkah seseorang kaya di hari tua jika di masa mudanya dia hura-hura?. Mungkinkah seseorang masuk surga jika masa mudanya dihabiskan untuk kesenangan belaka?.  Tentunya tidak.
Nah sahabat, makanya kita harus memperhatikan waktu dan usia kita, karena kebanyakan manusia, khususnya para pemuda selalu lalai dan tidak mensyukuri nikmat kesempatan atau waktu luang dan kesehatan.
Persis seperti yang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam katakan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori.
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.”
Sahabat hijrah, berkaitan dengan hadits tersebut, Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan bahwa  hendaknya orang yang memiliki dua nikmat ini, yaitu waktu senggang dan nikmat sehat, menjalani hidupnya dengan penuh bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah Allah   dan menjauhi setiap larangan Allah  .
Sahabat hijrah, cobalah kita perhatikan dengan jeli, ada orang yang sehat tubuhnya tapi dia tidak memiliki waktu yang luang, dia sibuk dengan urusan dunia. Dan terkadang ada juga orang yang memiliki waktu luang, tapi tidak dalam kondisi sehat badannya. Nah, apabila ada terkumpul pada diri kita waktu luang dan kesehatan, maka itu adalah anugerah yang besar.
Jika tidak memanfaatkan keduanya dengan baik, yakni dengan beramal serta melakukan kegiatan bermanfaat, berarti kita telah tertipu. Kita tidak lulus ujian. ya, Allah menguji kita dengan waktu luang dan kesehatan.
Tak heran jika Ibnu Jauzi mengatakan bahwa dunia adalah ladang beramal untuk menuai hasil di akhirat kelak. Dunia adalah tempat kita menjajakan barang dagangan. Sedangkan keuntungannya akan diraih di akhirat nanti.  Barangsiapa yang memanfaatkan waktu luang dan nikmat sehat dalam rangka melakukan ketaatan, maka dialah yang akan berbahagia. Sebaliknya,  barangsiapa memanfaatkan keduanya dalam maksiat, dialah yang betul-betul tertipu. Sesudah waktu luang akan datang waktu yang penuh kesibukan. Begitu pula sesudah sehat akan datang kondisi sakit yang tidak menyenangkan.
Dan yang lebih parah, ada orang yang tidak bekerja untuk dunianya, dan juga tidak beramal untuk akhiratnya. makanya Umar bin Khatab radiyallahu anhu mengatakan.
إنِّي أَكْرَهُ الرَّجُلَ أَنْ أَرَاهُ يَمْشِي سَبَهْلَلًا أَيْ : لَا فِي أَمْرِ الدُّنْيَا ، وَلَا فِي أَمْرِ آخِرَةٍ .
Aku tidak suka melihat seseorang yang berjalan seenaknya tanpa mengindahkan ini dan itu, yaitu tidak peduli penghidupan dunianya dan tidak pula sibuk dengan urusan akhiratnya.”
Ibnu Mas’ud radiyallahu anhu juga mengatakan,
إنِّي لَأَبْغَضُ الرَّجُلَ فَارِغًا لَا فِي عَمَلِ دُنْيَا وَلَا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ
Aku sangat membenci orang yang menganggur, yaitu tidak punya amalan untuk penghidupan dunianya ataupun akhiratnya.”
Kemudian sahabat, karakter pemuda unggul yang kedua adalah pemuda yang kuat.
Kuat di sini bermakna umum, bisa mencakup seluruh aspek dari kehidupan, yakni kuat jasadnya, kuat aqidahnya, kuat amalnya, dan kuat ilmunya.
Di dalam penggalan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda.
الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun masing-masing ada kebaikan.
Semangatlah meraih apa yang manfaat untukmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah  , dan jangan bersikap lemah.
Jadi sahabat, Maksud mukmin kuat dalam hadits ini adalah kuat imannya, bukan semata kuat fisik atau materi. Karena kuatnya fisik dan materi akan membahayakan diri jika digunakan untuk kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pada dasarnya, kuatnya fisik dan materi bukan sebagai pijakan mulia atau tercela. Hanya saja, jika keduanya digunakan untuk kemanfaatan di dunia dan akhirat,ia menjadi terpuji. Sebaliknya, jika digunakan untuk kemaksiatan terhadap Allah  , ia menjadi tercela.
Sedangkan makna mukmin lemah adalah kebalikan dari semua yang disebutkan, yakni lemah imannya, lemah ilmunya, lemah fisiknya atau lemah materinya. Namun tidak boleh diremehkan, sebab ia masih dalam lingkup baik karena masih ada iman dalam dirinya.
Kemudian sahabat,  Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan setiap mukmin, baik yang kuat maupun yang lemah, untuk bersemangat dalam mencari apa yang manfaat untuk dirinya dari urusan dunia dan akhiratnya.Namun tidak boleh lupa terhadap kuasa Allah dengan senantiasa meminta pertolongan kepada-Nya dalam menjalankan usaha tersebut.
Selanjutnya, karakter pemuda unggul yang ketiga adalah pemuda atau remaja yang optimis. optimis dalam menatap masa depan, tidak pesimis ketika melihat umat terpuruk dengan melakukan segala ikhtiar.
Sahabat, marilah kita sejenak menyimak kisah dari seorang ulama ilmu Nahwu bernama Imam al-Kasa’i, dikisahkan, saat mulai bejalar ilmu Nahwu beliau mendapati kesulitan sehingga hampir putus asa, Kemudian beliau menemukan seekor semut membawa makanan ke atas tembok, Setiap semut itu naik sedikit, ia terjatuh.Begitu berulang-ulang sehingga ia berhasil naik ke atas. Imam al-Kasai mengambil pelajaran dari semut tersebut, beliau bersungguh-sungguh dalam belajar sampai menjadi imam besar dalam ilmu Nahwu.
Akhir kalam, saya ingin mengajak sahabat hijrah semua untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas iman. Mengajak untuk menjadi hamba Allah yang bertakwa, dengan memanfaatkan waktu dan kesehatan, menguatkan iman, ilmu dan amal, dan selalu optimis menatap masa depan, Semoga bermanfaat. (redaksi/admin)
BANNER 728X90
Copyright © | by: Me