Tanggung Jawab Pendidikan Bagian 2

Pada tulisan sebelumnya (Tanggung Jawab pendidikan bagian 1) sudah dijelaskan mengenai tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak-anaknya menjadi anak yang ta’at kepada Alloh  , dan juga menjadi anak yang membanggakan bagi kedua orang tuanya kelak.
Hazm mengatakan, “Saya mendengar al-Hasan al-Bashri ditanya oleh Katsir bin Ziyad mengenai Firman Alloh Ta’ala,
“Ya Robb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. Qur’an Surat Al Furqan ayat 74.
Katsir bin Ziyad bertanya kepada al-Hasan, “Wahai Abu Sa’id, apakah yang dimaksud qurrata a’yun, penyenang hati dalam ayat ini terjadi di dunia ataukah di akhirat?. Maka al-Hasan pun menjawab, “Tidak, bahkan hal itu terjadi di dunia”. Katsir pun bertanya kembali, “Bagaimana bisa?”.
al-Hasan menjawab, “Demi Alloh, Alloh akan memperlihatkan kepada seorang hamba, istri, saudara dan teman yang taat kepada Alloh, dan demi Alloh tidak ada yang menyenangkan hati seorang muslim selain dirinya melihat anak, orang tua, teman dan saudara yang tumbuh dalam ketaatan kepada Alloh  ”.
Betapa indahnya, jika kita memandang anak-anak kita menjadi anak yang shalih, karena hal itu salah satu penyejuk pandangan kita. Namun yang patut kita perhatikan adalah faktor yang juga mengambil peran penting dalam pembentukan keshalehan anak adalah keshalihan orang tua itu sendiri. Jika kita menginginkan anak-anak shalih, maka kita juga harus menjadi orang yang shalih. Ada pepatah Arab yang bagus mengenai hal ini, yang berbunyi,
“Bagaimana bisa bayangan itu lurus sementara bendanya bengkok?”.
Kita selaku orang tua adalah bendanya, sedangkan anak-anak kita adalah bayangannya. Jika diri kita bengkok, maka anak pun akan bengkok dan rusak. Dan sebaliknya, jika diri kita lurus, maka insya Alloh anak-anak kita akan lurus.
Alloh   berfirman,
Artinya,
“Keturunan itu sebagiannya merupakan turunan dari yang lain…”. Qur’an Surat Ali Imran ayat 34.
Maksud dari ayat ini adalah orang tua yang baik, sumber yang baik, insya Alloh akan menghasilkan keturunan yang baik pula.
Keshalihan orang tua juga akan memberikan manfaat positif, karena Alloh Ta’ala akan menjaga sang anak sampai dewasanya.
Alloh   berfirman,
Artinya, “Adapun dinding rumah itu  adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh…”. Qur’an Surat Al Kahfi ayat 82.
Dalam ayat ini diberitakan, bahwa dikarenakan keshalihan orang tua, Alloh  menjaga dan memelihara sang anak, serta tidak mengecewakan orang tua. Oleh karenanya, keshalihan orang tua itu akan berpengaruh pada sang anak,
bahkan manfaat itu tidak terbatas pada sang anak semata, tapi juga berdampak kepada cucu-cucunya, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir rohimahulloh bahwa yang dimaksud ”sedang ayahnya adalah seorang yang shaleh” dalam ayat yang telah di bacakan tadi adalah kakek ketujuh dari dua anak tadi.
Dan kelak di surga, Alloh   pun akan mengumpulkan sang anak bersama orang tua mereka yang shalih, meskipun amalan sang anak tidak sebanding dengan amalan orang tuanya. Sebagaimana Firman Alloh   di dalam Qur’an Surat Ath-Thur ayat yang ke-21, yang artinya,
“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”.
Maka di sini Alloh   memasukkan anak-anak orang mukmin ke dalam surga dengan syarat mereka juga beriman. Maka, betapa menyenangkannya, jika kita berkumpul bersama keluarga kita di surga sebagaimana kita berkumpul di dunia ini. Meskipun amal ibadah sang anak tidak sepadan dengan kedua orang tuanya, amalnya kurang daripada orang tuanya, namun Alloh   tetap memasukkan keturunannya ke dalam surga. Karena apa?, karena keshalehan kedua orang tuanya.
Betapa pentingnya hal ini, yaitu menjadikan pribadi kita, yaitu orang tua, menjadi pribadi yang shalih, sampai-sampai salah seorang yang shalih pernah mengatakan,
“Wahai anakku, sesungguhnya aku memperbanyak shalat karenamu, dengan harapan Alloh   akan menjagamu.”
Ada seorang tabi’in yang bernama Sa’id ibn al-Musayyib rohimahulloh juga pernah berkata,
“Ada kalanya ketika aku sholat, aku teringat akan anakku, maka aku pun menambah sholatku, agar anak-anakku dijaga oleh Alloh Ta’ala”.
Maka, mari kita menjadikan diri kita sebagai pribadi yang baik, taat kepada Alloh   dan shalih, kita jalankan perintah-perintah Alloh   dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, dengan harapan nantinya Alloh   menjaga dan memelihara anak-anak kita.
Demikianlah pembahasan kita pada edisi kali ini, mudah-mudahan kita mendapatkan pelajaran dan hikmahnya, terlebih kita bisa mengamalkannya di dalam mendidik anak-anak kita sehari-hari. Wallohu a’lam. (redaksi/admin)

PASTIKAN RIZKI YANG HALAL UNTUK ANAKMU

Pendidikan orang tua kepada anak, adalah dengan memberikan asupan yang halal kepada sang anak. Karena itulah sumber kebaikannya. Sementara makanan yang haram, adalah faktor yang menyebabkan buruknya pribadi sang anak.
Sudah merupakan kewajiban orang tua untuk menafkahi sang anak, baik untuk keperluan makannya, minumnya, sekolah, dan segala hal yang sudah merupakan hak orang tua.
Namun, terkadang tatkala orang tua ditimpa dengan kesulitan rizki, setelah mereka peras keringat dan banting tulang, mulailah sebagian mereka termakan ucapan syetan “Cari rejeki yang haram aja susah mas apalagi cari rejeki yang halal”. Sehingga, beribu satu macam cara di tempuh agar dapat mengais uang, baik dengan cara yang haram atau yang halal. Na’udzubillah.
Memang kewajiban orang tua adalah memberikan nafkan kepada anak. Namun tak hanya berhenti sampai disitu. Syariat Islam telah menjelaskan bahwa mencari nafkah untuk keluarga adalah amalan yang mulia, dan menghasilkan suatu pahala. Sebagaimana sabda Rosululloh -Saws- .
“Apabila seorang muslim memberikan nafkah kepada keluarganya, yang dia inginkan mendapatkan pahala dari nafkah itu untuk mengharapkan pahala dari Alloh, -Az- maka itu akan menjadi  sedekah baginya”.

Menerangkan hal ini, Al-Hafidz Ibnu Hajar rohimahulloh mengutip perkataan Al-Muhallab, bahwa kewajiban memberi nafkah kepada keluarga adalah kesepakatan menurut kaum Muslimin. Rosululloh -Saws- menamakannya sebagai sedekah, karena dikhawatirkan ada orang-orang yang menyangka, pelaksanaan kewajiban ini tidak ada pahalanya. Sementara mereka telah mengetahui, bahwa memberikan sedekah itu berpahala, Maka Beliau memberitahukan bahwa nafkah ini adalah sedekah bagi mereka, agar mereka tidak mengeluarkan sedekah untuk selain keluarga, kecuali setelah mencukupi keluarganya. Hal ini sebagai hasungan bagi mereka agar mendahulukan sedekah yang wajib dari pada sedekah yang sunnah.
Rosululloh -Saws- bersabda:
“Sedekah yang paling utama adalah yang masih menyisakan kecukupan, dan tangan yang diatas lebih baik dari pada tangan yang di bawah/ dan mulailah dalam berinfaq  dengan orang-orang yang berada di bawah tanggunganmu”.
Dari apa yang telah dijelaskan tadi sangatlah jelas bahwa menafkahi keluarga adalah amalan yang mulia yang membuahkan pahala. Oleh karena itu, jangan sampai karena kita belum memiliki keluasan untuk memenuhi kebutuhan anak, kemudian kita melirik kepada praktek-praktek yang diharamkan, walaupun menghasilkan sesuatu  yang menggiurkan. Baik itu korupsi, pungli, penggelapan dana, penipuan, praktek ribawi, dan profesi-profesi lainnya, yang diharamkan oleh agama Islam yang mulia ini. Perlu kita sadari, segala sesuatu yang haram akan berpengaruh negative kepada diri anak. Karena sesuatu yang jelek akan berdampak yang jelek pula, bisa jadi sang anak nanti akan menjadi anak nakal yang tidak berbakti kepada orang tua, yang justru inilah yang akan merugikan orang tua itu sendiri. Maka inilah balasan yang akan diterima oleh orang tua, sebagai mana dahulu ia mencari rizki dari jalan haram, dan manafkahi keluarganya dengan rizki tersebut, maka Alloh ‘Azza wa Jalla akan jadikan rizki buruk tersebut menjadi bumerang baginya. Demikian rezeki yang haram, adalah sebab tidak terkabulnya doa orang tua maupun sang anak.
Rosululloh -Saws- bersabda:
“Wahai manusia, sesungguhnya Alloh itu Maha Baik, dan tidak menerima kecuali sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya Alloh telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman, dengan apa yang Dia perintahkan kepada para Rosul. Alloh berfirman, “Wahai para Rosul, makanlah dari segala sesuatu yang baik, dan berbuatlah dengan amalan-amalan yang shaleh,  sesungguhnya aku mengetahui terhadap apa yang kalian perbuat”.
Dan Alloh berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari segala sesuatu yang baik yang telah kami rezekikan kepada kalian”. Kemudian Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam menyebutkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan yang jauh dalam keadaan kusut rambutnya dan berdebu. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit sambil berdo’a, “Wahai Robbku, wahai Robbku!” sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan sesuatu yang haram, Maka bagaimana mungkin akan dikabulkan doa orang yang seperti ini?”.
Alloh -Az- telah memerintahkan para Rosul untuk memakan dari segala sesuatu yang baik, yaitu segala sesuatu yang telah dihalalkan oleh Alloh -Az- dan didapat dari jalan yang dibenarkan oleh syariat. Apabila tidak dihalalkan oleh Alloh -Az- seperti khomr misalnya, maka tidak boleh dimakan. Demikian juga apabila makanan tersebut adalah makanan yang dihalalkan oleh Alloh -Az- namun didapat dari jalan yang haram,  maka inipun tidak boleh untuk dimakan.
Imam An-Nawawi juga mengatakan, “Hadits ini merupakan anjuran untuk memberikan nafkah dari segala sesuatu yang halal, dan larangan memberikan nafkah dari segala sesuatu yang haram. hadits ini juga menunjukan bahwa minuman, makanan, pakaian, dan semacamnya, haruslah berasal dari sesuatu yang halal, bersih, dan tidak mengandung syubhat, kesamaran. Hadits ini juga menunjukan, bahwa seseorang yang akan berdoa haruslah memperhatikan kebersihan diri di dalam jiwanya.
Di sini juga terdapat peringatan keras tentang memakan sesuatu yang haram, karena hal itu adalah sebab tertolaknya do’a, walaupun kita melakukan sebab-sebab yang merupakan faktor terkabulnya. Maka di sini Rosululloh -Saws- bersabda, “Maka bagaimana mungkin akan dikabulkan doa orang yang seperti ini?”.
Di samping itu, memakan yang haram merupakan sebab seseorang meninggalkan kewajiban-kewajiban agamanya, karena jasmaninya telah disuapi sesuatu yang jelek, Segala suapan yang jelek akan berpengaruh kepada dirinya.
Contoh yang kita lihat dengan jelas adalah pribadi Rosululloh -Saws- yang begitu berhati-hati dan menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dikhawatirkan berasal dari sesuatu yang haram.


Rosululloh -Saws- bersabda:
“Aku pernah datang menemui keluargaku. Kemudian aku mendapatkan sebutir korma jatuh di atas tempat tidurku. Aku pun mengambilnya untuk aku makan. Lalu aku khawatir jika kurma itu adalah kurma sedekah, maka kuletakkan lagi kurma itu”.
Beliau -Saws- juga menjauhkan cucunya dari sesuatu yang diharamkan, walaupun hanya sebutir korma yang berasal dari sedekah yang Beliau dan keluarganya diharamkan dari sedekah, Sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhu, bahwa,
“Al-Hasan bin ‘Ali rodhiyallohu’anhuma pernah memungut sebutir kurma dari korma sedekah/ lalu dia memasukkan korma itu ke dalam mulutnya. Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam pun bersabda, “Buanglah korma itu!. Apa kau tidak tahu, bahwa kita tidak diperbolehkan untuk memakan sedekah”.
Pembaca yang Budiman. Demikianlah pembahasan pada edisi kali ini. Inilah suatu tauladan baik yang dipraktekkan oleh teladan kita, dan contoh yang baik bagi setiap Muslim yang menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi anak-anaknya. Kasih sayang bukan berarti menuruti setiap tuntutan hingga melampaui batas pemikiran. Semoga bermanfaat, wallohu a’lam.
Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Tanggung Jawab Pendidikan

Tarbiyatul Aulad – Kita yang sudah menjadi orang tua, Tentu senantiasa berharap, berdo’a dan berusaha semaksimal mungkin agar anak-anak kita kelak menjadi anak-anak yang shalih, anak-anak yang bermanfaat. Namun siapakah yang bertanggung jawab menjadikan mereka anak yang shalih, apakah orang tua? Ataukah sekolah dan para gurunya?.
Sungguh beruntung dan berbahagialah orang tua yang telah mendidik anak-anak mereka sehingga menjadi anak yang shalih, yang selalu membantu orang tuanya, mendo’akan orang tuanya, membahagiakan, dan menjaga nama baik kedua orang tua. Karena anak yang shalih akan senantiasa menjadi investasi pahala, sehingga orang tua akan mendapat aliran pahala dari anak shalih yang dimilikinya meskipun ia sudah tiada. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila seorang manusia telah meninggal dunia, maka seluruh amalnya terputus kecuali tiga, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo’akan orang tuanya”. Hadits Riwayat Muslim.
Demikian pula, kelak di hari kiamat, seorang hamba akan terheran-heran, mengapa bisa meraih derajat yang tinggi padahal dirinya merasa amalan yang dia lakukan dahulu di dunia tidaklah seberapa, namun hal itu pun akhirnya diketahui bahwa derajat tinggi yang diperoleh tidak lain dikarenakan do’a ampunan yang dipanjatkan oleh sang anak untuk dirinya. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesunguhnya Alloh Ta’ala akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Kemudian dia akan berkata, “Wahai Robb-ku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku?.
Maka Alloh menjawab, “Hal itu dikarenakan do’a yang dipanjatkan anakmu agar kesalahanmu diampuni”. Hadits Riwayat Ahmad.
Oleh karenanya, saking urgennya pembinaan dan pendidikan sang anak sehingga bisa menjadi anak yang shalih, Alloh Ta’ala langsung membebankan tanggung jawab ini kepada kedua orang tua. Sebagaimana Firman Alloh Ta’ala,
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. Qur’an Surat At Tahrim ayat 6.
Seorang tabi’in, Qotadah, ketika menafsirkan ayat ini mengatakan,
“Yakni, hendaklah engkau memerintahkan mereka untuk berbuat taat kepada Alloh dan melarang mereka dari berbuat durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah engkau menerapkan perintah Alloh kepada mereka, dan perintahkan dan bantulah mereka untuk menjalankannya. Apabila engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Alloh, maka peringatkan dan cegahlah mereka”.
Demikian pula, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam memikulkan tanggung jawab pendidikan anak ini secara utuh kepada kedua orang tua.
Dan Abdullah bin Umar rodhiallohu ‘anhuma pernah berkata,
“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu”.
Tanggung jawab pendidikan anak ini harus ditangani langsung oleh kedua orang tua. Para pendidik yang mendidik anak di sekolah–sekolah, hanyalah partner bagi orang tua dalam proses pendidikan anak.
Orang tua yang berusaha keras mendidik anaknya dalam lingkungan ketaatan kepada Alloh, maka pendidikan yang diberikannya tersebut merupakan pemberian yang berharga bagi sang anak, meski terkadang hal itu jarang disadari. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Hakim, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik”. Hadits Riwayat Al Hakim.
Mengenai tanggung jawab pendidikan anak terdapat perkataan yang berharga dari imam Abu al-Hamid al-Ghozali rohimahulloh. Beliau berkata,
“perlu diketahui bahwa metode untuk melatih, mendidik anak-anak termasuk urusan yang paling penting dan harus mendapat prioritas yang lebih dari urusan yang lainnya. Anak merupakan amanat di tangan kedua orang tuanya, dan qolbunya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga dan murni yang belum dibentuk dan diukir. Dia menerima apa pun yang diukirkan padanya dan menyerap apa pun yang ditanamkan padanya. Jika dia dibiasakan dan dididik untuk melakukan kebaikan, niscaya dia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat.
Dan setiap orang yang mendidiknya, baik itu orang tua maupun para pendidiknya yang lain akan turut memperoleh pahala sebagaimana sang anak memperoleh pahala atas amalan kebaikan yang dilakukannya. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan keburukan serta ditelantarkan seperti hewan ternak, niscaya dia akan menjadi orang yang celaka dan binasa, serta dosa yang diperbuatnya turut ditanggung oleh orang-orang yang berkewajiban mendidiknya”.
Senada dengan ucapan al-Ghozali yang telah disebutkan adalah perkataan al-Imam Ibnu al-Qoyyim rohimahulloh, beliau berkata,
“Siapa saja yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang berguna baginya, lalu dia membiarkan begitu saja, berarti dia telah berbuat kesalahan yang fatal. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua mengabaikan mereka, serta tidak mengajarkan berbagai kewajiban dan ajaran agama. Orang tua yang menelantarkan anak-anaknya ketika mereka kecil telah membuat mereka tidak berfaedah bagi diri sendiri dan bagi orang tua ketika mereka telah dewasa. Ada orang tua yang mencela anaknya yang durjana, lalu anaknya berkata, “Ayah, engkau durjana kepadaku ketika kecil, maka aku pun durjana kepadamu setelah aku besar. Engkau menelantarkanku ketika kecil, maka aku pun menelantarkanmu ketika engkau tua renta”.
Demikianlah singkat pembahasan kita pada edisi kali ini, mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya, terlebih kita bisa menerapkannya dalam mendidik anak-anak kita menjadi generasi umat yang unggul dan berprestasi, juga membanggakan bagi kita. Insyaa Alloh kita akan lanjutkan pada edisi yang akan datang mengenai Orang Tua Shalih, Anak pun Shalih. Seperti apa kelanjutannya, tetap terus Anda dengarkan radar radio kesayangan kita ini. Wallohu a’lam. 
BANNER 728X90
Copyright © | by: Me