Kisah Ummu Mahjan -raa- Berkhidmat Untuk Masjid Nabawi

Pembaca yang dirahmati Alloh. Jangan pernah kita meremehkan amal kebaikan sekalipun kecil, dan ketahuilah bahwa kita diseru untuk menunaikan tanggung jawab kita dengan mencurahkan segenap kemampuan, dan banyak berkorban dalam rangka menegakkan bangunan Islam yang agung. Janganlah sekali-kali kita mengelak dari tugas ini sekalipun hanya sedetik, karena tipu daya musuh Islam terhadap kita semua. Mereka musuh-musuh Islam ingin sekiranya kita menyimpang dari tugas yang mulia ini, dan mereka berupaya menjatuhkan semangat kita dalam berkhidmat kepada Islam dan membina umat.
Janganlah kita mundur dari berkhidmat kepada Islam karena kita merasa lemah, tidak ada kemampuan untuk ikut andil dalam menguatkan masyarakat Islam, sebab sesungguhnya perasaan-perasaan seperti itu merupakan rekayasa dari setan jin dan manusia.
Kisah seorang wanita yang lemah dan berkulit hitam.
Kisah ini merupakan sebuah pelajaran bagi seluruh kaum muslimin, dan terkhusus untuk kaum Muslimah dalam hal kesungguhan, ketawadhu’an hingga sampai pada puncak semangatnya.
Mari kita mengenal beliau melalui kilas sejarah, Beliau bernama Ummu Mahjan. Dalam kitab Ath-Thobaqot, Ibnu Sa’ad menyebutkan secara shohih tanpa menyebutkan nama aslinya, karena memang Ummu Mahjan  kurang mendapat perhatian.
Ummu Mahjan seorang wanita miskin yang memiliki tubuh yang lemah. Untuk itu beliau tidak luput dari perhatian Rasulullah  sang pemimpin, sebab beliau senantiasa mengunjungi orang-orang miskin dan menanyai keadaan mereka dan memberi makanan kepada mereka.
Ummu Mahjan  menyadari bahwa dirinya memiliki kewajiban terhadap akidahnya dan masyarakat Islam. Lantas apa yang bisa dia laksanakan padahal beliau adalah seorang wanita yang tua dan lemah? Akan tetapi beliau sedikitpun tidak bimbang dan ragu, dan tidak menyisakan sedikitpun rasa putus asa dalam hatinya. Dan putus asa adalah jalan yang tidak dikenal di hati orang-orang yang beriman.
Begitulah, keimanan beliau telah menunjukkan kepadanya untuk menunaikan tanggung jawabnya. Maka beliau senantiasa membersihkan kotoran dan dedaunan dari masjid dengan menyapu dan membuangnya ke tempat sampah.  Beliau senantiasa menjaga kebersihan rumah Allah  sebab masjid memiliki peran yang sangat penting di dalam Islam. Di sanalah berkumpulnya para pahlawan dan para ulama’. Masjid, ibarat tempat bermusyawarah yang sebanyak lima kali sehari digunakan untuk bermusyawarah, saling memahami dan saling mencintai, sebagaimana pula masjid adalah sekolah bagi para sahabat untuk menuntut ilmu dari Rosululloh 
Begitulah fungsi masjid pada zaman Rasulullah  demikian pulalah yang terjadi pada zaman khulafa‘ur rasyidin, dan begitu pula seharusnya peranan masjid hari ini hingga tegaknya hari kiamat.
Untuk itulah Ummu Mahjan  tidak kendor semangatnya, sebab pekerjaan itu merupakan amal yang dapat beliau kerjakan. Beliau tidak pernah meremehkan pentingnya membersihkan kotoran, untuk membuat suasana yang nyaman bagi Rasulullah  dan para sahabat beliau dalam bermusyawarah yang senantiasa mereka kerjakan secara rutin.
Ummu Mahjan  terus menerus menekuni pekerjaan tersebut hingga wafat pada zaman Rasulullah  Ketika ia wafat, para shahabat, membawa jenazahnya setelah malam menjelang dan mereka mendapati Rasulullah  masih tertidur. Mereka pun tidak ingin membangunkan beliau, sehingga mereka langsung menshalatkan dan menguburkannya di Baqi‘ul Gharqad.
Pagi harinya Rasulullah  merasa kehilangan wanita itu, kemudian beliau tanyakan kepada para sahabat, mereka menjawab, “Beliau telah dikubur wahai Rasulullah, kami telah mendatangi kita dan kami dapatkan kita masih dalam keadaan tidur sehingga kami tidak ingin membangunkan kita.” Maka beliau bersabda: “Marilah kita pergi!”. Lantas bersama para shahabat, Rasulullah pergi menuju kubur Ummu Mahjann  Maka Rasulullah  berdiri, sementara para sahabat berdiri bershaf-shaf di belakang beliau, lantas Rasulullah  menshalatkannya dan bertakbir empat kali.
Sebuah riwayat dari Abu Hurairah  bahwa ada seorang wanita yang berkulit hitam yang biasanya membersihkan masjid, suatu ketika Rasulullah  merasa kehilangan dia, lantas beliau bertanya tentangnya. Mereka telah berkata, “Dia telah wafat.” Rasulullah  bersabda: “Mengapa kalian tidak memberitahukan hal itu kepadaku?” Abu Hurairah  berkata, “Seolah-olah mereka menganggap bahwa kematian Ummu Mahjan  itu adalah hal yang sepele.” Rasulullah  bersabda: “Tunjukkan kepadaku di mana kuburnya!”. Maka mereka menunjukkan kuburnya kepada Rasulullah  kemudian beliau menyalatkannya, lalu bersabda:, “Sesungguhnya kubur ini terisi dengan kegelapan atas penghuninya dan Allah meneranginya bagi mereka karena aku telah menyalatkannya.”
Pendengar. Itulah Ummu Mahjan  Semoga Allah merahmati Ummu Mahjan yang sekalipun beliau seorang yang miskin dan lemah, akan tetapi beliau turut berperan sesuai dengan kemampuannya. Beliau adalah pelajaran bagi kaum muslimin dalam perputaran sejarah bahwa tidak boleh menganggap sepele suatu amal sekalipun kecil.
Oleh karena itu, ia mendapatkan perhatian dari Rasulullah  hingga ia wafat. Sehingga beliau menyalahkan para shahabat beliau yang tidak memberitahukan kepada beliau perihal kematiannya,agar beliau dapat mengantarkan Ummu Mahjan  ke tempat tinggalnya yang terakhir di dunia.
Bahkan tidak cukup hanya demikian namun beliau bersegera menuju kuburnya untuk menshalatkannya agar Allah  menerangi kuburnya dengan shalat beliau.
Hikmah yang dapat kita ambil dari kisah Ummu Mahjan  tentang kesungguhannya dalam beramal. Dengan kondisi tubuhnya yang lemah, ia terus menerus beramal dengan apa yang dia bisa, yaitu membersihkan Masjid. Sekalipun di mata kebanyakan manusia, perbuatan itu adalah perbuatan yang sepele dan bisa dikerjakan oleh siapapun. Namun di mata Alloh dan Rosul-Nya, itu adalah amalan yang besar, karena Ummu Mahjan  telah beramal dengan segenap kemampuannya.
Di sini ada sebuah hikmah, bahwa Alloh  tidak akan pernah menyia-nyiakan peran seseorang dalam beramal untuk kemajuan Islam, tak peduli sekecil apa peran tersebut. Demikian pula dengan Rosululloh  Dengan keagungan akhlak yang telah Alloh  ajarkan kepadanya, Beliau  tidak pernah meremehkan manusia, dan tidak pernah pula meremehkan amalan seseorang. Rosululloh  yang sangat penyayang kepada ummatnya selalu memberikan do’a dan respon terbaik kepada Ummatnya.
Wallohu a’lam. Wassalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh

JANGAN REMEHKAN KEBAIKAN SEKECIL APA PUN

Judul Rubrik
Edisi
Penulis & Editor
Korektor
Pembaca
Paraf
MUDA HIJRAH
12
Husni Mubarok
Ust. Faishol

Hari,Tanggal:

Waktu: 10 Menit
Tempat:









Pembaca yang berbahagia, hendaknya kita jangan meremehkan berbuat baik sekecil apa pun walau hanya dengan senyum manis tatkala bertemu, begitu pula walau hanya membantu urusan saudara kita yang ringan.
Karena teladan yang mulia, Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda di dalam sebuah haditsnya.
وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ
Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi.
Sahabat hijrah, Kebaikan, walaupun sedikit tetap kebaikan yang dicatat di sisi Allah subhanahu wata'ala sebagai kebaikan. Lagi pula sahabat tentu sudah tidak asing dengan kata pepatah,’ sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit,’ begitu juga dengan amal-amal baik kita, sekecil apa pun akan bernilai pahala, dan jika kebaikan-kebaikan yang kecil dan kita anggap remeh itu jika dilakukan dengan ikhlas pasti Allah subhanahu wata'ala akan memberikan pahala yang berlipat, dan jika kita lakukan dengan terus menerus, maka pahalanya akan semakin besar.
Sebaliknya, banyak sekali orang yang meremehkan dosa karena dianggap dosa kecil yang mudah diampuni oleh Allah subhanahu wata'ala, sahabat hijrah, ingatlah pepatah ulama salaf,’jangan kau lihat dosamu yang remeh, tapi lihat kepada dzat yang kau bermaksiat kepada-Nya.
Daripada melihat remehnya dosa, kita hendaknya melihat siapa Dzat yang kita durhakai, Allah subhanahu wata'ala. Lagi pula ketika kita meremehkan dosa tersebut, maka berarti kita meremehkan Allah subhanahu wata'ala. Naudzubillahi min dzalik.
Sahabat hijrah, berbuat baik itu bisa kita lakukan dalam bentuk apa pun, kapan pun dan dimana pun. Tidak perlu beramal dengan amal yang terlihat wah,
Jika kita tidak bisa menolong atau bersedekah dengan harta, maka kita bisa dengan tenaga, jika tidak bisa dengan tenaga, maka bisa dengan ide, jika tidak bisa, maka dengan doa. tak ada kata untuk tidak beramal. Karena Allah subhanahu wata'ala membentangkan semua kesempatan kepada kita.
Nah sahabat hijrah, sepertinya kita harus menghafal sebuah hadits yang diriwayatkan oleh dua Imam Hadits besar yakni Imam Bukhori dan Imam Muslim tentang kebaikan yang berbuah kebaikan. Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda.
وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ
Siapa yang menolong saudaranya dalam memenuhi kebutuhannya, maka Allah pun akan menolongnya dalam kebutuhannya.”
Ini janji Allah subhanahu wata'ala untuk kita, dan Allah subhanahu wata'ala mustahil menyalahi janji. Jika kita memberi kemudahan kepada orang lain, maka Allah subhanahu wata'ala akan memudahkan urusan kita.
Kemudian sahabat hijrah, di dalam hadits yang lain Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda.
يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا ، وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ
Wahai para wanita muslimah!, Janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan pemberian tetangganya walau pemberiannya hanyalah kaki kambing.
Hadits riwayat Bukhori dan Muslim.
Walaupun hadits tersebut ditujukan kepada perempuan, tapi sejatinya nasihat itu untuk kita semua. kadang kita meremehkan pemberian orang lain hanya karena nilainya yang sepele. Padahal kita hendaknya menghargainya, karena sekecil apa pun pemberian, di sisi Allah subhanahu wata'ala akan dicatat sebagai kebaikan.
Sahabat hijrah, salah satu bentuk kebaikan yang mudah kita kerjakan adalah dengan tersenyum. Ya, tersenyum. kita bisa tersenyum tanpa perlu energy yang besar, hanya perlu menarik ujung bibir kita, tidak perlu bayar dan tidak perlu modal, semudah membalikan telapak tangan.
Jadi ketika bertemu saudara kita hendaklah dengan wajah yang tersenyum, bukan cemberut. Karena sikap seperti termasuk pula dalam memberikan kebahagiaan pada orang lain. Membuat orang lain bahagia adalah bagian dari kebaikan dan termasuk bentuk berbuat baik pada orang lain.
 Asalkan, senyum di sini benar penempatannya, dan benar tujuan asalnya, karena tidak semua jenis senyum itu berpahala, ada senyum ejekan dan senyum hinaan yang menyakitkan, ada juga senyum mesum yang berangkat dari birahi,
Kenapa kita diharuskan memperhatikan kebaikan sekecil apa pun?. karena sahabat kita tidak tahu amal mana yang diterima oleh Allah subhanahu wata'ala. boleh jadi karena amal yang kita anggap remeh itulah sebab dimasukannya kita ke dalam surga. atau boleh jadi juga, diantara amal-amal tersebut, amal kecil tersebut yang diterima di sisi Allah subhanahu wata'ala.
Berkaitan hal itu, mari kita simak kisah menggugah dari seorang istri Khalifah di zaman dinasti Muawiyah.
Zubaidah istri Harun Ar-Rasyid mempunyai kebaikan yang sangat besar bagi umat. Beliau membuat aliran air yang sangat panjang untuk suplai air kepada jamaah haji di Mina. Sehingga terkenal dalam sejarah dengan sebutan Mata Air Zubaidah.
Disebut dalam tarikh Baghdadi, setelah beliau wafat, Imam Abdullah Ibnu al-Mubarok bertemu Zubaidah dalam mimpi. Ibnu Mubarok kemudian bertanya. “Apa yang telah Allah perbuat untukmu?.”
Zubaidah menjawab,“Aku mendapatkan ampunan-Nya.”
Lalu ditanyakan kepadanya.“Apakah karena mata air untuk jamaah haji?.”
Beliau menjawab. “Wallahi tidak, bukan karena itu, tetapi karena dua rakaat di waktu malam yang tidak pernah aku tinggalkan.”
Dua rakaat di waktu malam!, Sungguh sesuatu yang tidak terduga.
Nah, sahabat.  kita tidak tahu amalan mana yang mendatangkan ampunan Allah. Maka, jangan remehkan kebaikan sekecil apapun, Lakukanlah kebaikan sekecil apapun itu. Lakukan di setiap kesempatan. Jika kita mampu melakukan kebaikan tersebut,maka lakukanlah!. Kita takkan merugi.Karena Kita tidak tahu amalan mana yang mendatangkan rahmat Allah.
Sahabat hijrah, sebelum kita tutup pertemuan kita, marilah kita menyimak apa yang Allah subhanahu wata'ala firmankan di dalam quran surat an-Nahl ayat 96.
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ ۖ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ
 Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.”
Ingatlah sahabat, amalan kita kekal di sisi Allah, bahkan nilainya lebih baik dari nilai emas, perak atau saldo yang tersimpan di rekening kita. walaupun itu hanya senyuman kepada teman atau mengambilkan barang yang jatuh milik teman.
Kemudian dilanjutkan di ayat selanjutnya.
 مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Akhir kalam, semoga kita semua dimudahkan oleh Allah subhanahu wata'ala dalam melakukan kebaikan dimana pun dan kapanpun.
Wallahu alam.
wassalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh.


DELAPAN OBAT HATI

Hati manusia terkadang tidak stabil atau sakit seperti halnya badan meskipun berbeda antara sifat maupun obatnya. Lalu apa obat yang bisa dipakai untuk mengobati hati yang sakit? Berikut diantaranya:
Yang pertama. Al-Qur’an al-Karim
Sebagaimana Alloh  berfirman di dalam Qur’an Surat Yunus ayat 57
Artinya “Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Alloh dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”.
Alloh  juga berfirman, di dalam Qur’an Surat Al-Isro ayat 82
Artinya “Dan Kami turunkan dari al-Quran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”.
Ibnu Qoyyim  berkata “Inti penyakit hati itu adalah syubhat dan nafsu syahwat. Sedangkan al-Qur’an adalah penawar bagi kedua penyakit itu, karena di dalamnya terdapat penjelasan-penjelasan dan argumentasi-argumentasi yang akurat, yang membedakan antara yang haq dengan yang batil, sehingga penyakit syubhat hilang. Dan penyembuhan al-Qur’an terhadap penyakit nafsu syahwat, karena di dalam al-Qur’an terdapat hikmah, nasihat yang baik, mengajak zuhud di dunia dan lebih mengutamakan kehidupan akhirat”.
Orang yang ingin memperbaiki hatinya hendaknya mengetahui bahwa berobat dengan al-Qur’an itu tidak cukup hanya dengan membaca al-Qur’an saja, tetapi harus memahami, mengambil pelajaran dan mematuhi hukum-hukum yang terkandung di dalamnya.
Yang kedua. Cinta kepada Alloh 
Cinta kepada Alloh merupakan terapi yang mujarab bagi hati. Cinta seorang hamba kepada Alloh akan menjadikan hatinya tunduk kepada-Nya, merasa tenteram tatkala mengingat-Nya, mengorbankan perasaannya demi sang kekasihnya, yaitu Alloh  Hatinya senantiasa mengharap kepada yang dicintainya untuk memecahkan problem yang ia hadapi. Ia pun tak putus asa dari kasih sayang-Nya. Ia yakin bahwa yang dicintainya adalah Dzat yang tepat untuk mengadukan berbagai masalah. Ia yakin akan diberikan solusi yang terbaik untuknya. Kecintaan kepada-Nya menyebabkan dapat menikmati manisnya iman yang bersemayam di dalam hati.
Yang ketiga. Berdzikir kepada Alloh 
Ketidaktenteraman hati merupakan hal yang membahayakan. Alloh ‘Azza wa Jalla memberikan salah satu obat yang bisa menjadi sarana terapi keadaan hati yang demikian. Sebagaimana Firman Alloh  di dalam Qur’an Surat Ar-Ro’d ayat 28
Artinya: “Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram”.
Obat ini menjadikan hati seseorang hidup/ terhindar dari kekerasan dan kegelapan Ibnu Qayyim  berkata “Segala sesuatu itu mempunyai penerang, dan sesungguhnya penerang hati itu adalah dzikrulloh, mengingat Alloh.
Suatu ketika, seseorang berkata kepada Hasan al-Basri, “Wahai Abu Sa’id aku mengadu kepadamu, hati saya membatu. ”Maka beliau menjawab, “Lunakkanlah dengan dzikir, karena tidak ada yang dapat melunakkan kerasnya hati yang sebanding dengan dzikrullah”.
Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam pun senantiasa berdzikir kepada Alloh  pada setiap saat.
Yang keempat. Taubat nasuha dan banyak beristighfar, meminta ampun kepada Alloh 
Perhatikanlah sabda Rosululloh 
“Sesungguhnya hatiku kadang keruh, maka aku beristighfar dalam satu hari sebanyak seratus kali”. Hadits Riwayat Ahmad.
Dalam hadis ini Nabi  menjelaskan bahwa Beliau menghilangkan kabut atau kekeruhan hati Beliau dengan istighfar, padahal dosa-dosa Beliau yang telah lalu maupun yang akan datang telah diampuni oleh Alloh  Bagaimanakah dengan kita yang banyak dosa dan banyak melakukan kemaksiatan?. Tidakkah kita lebih membutuhkan istighfar untuk hati kita yang sakit? Demi Alloh, betapa kita semua, sangat membutuhkan istighfar.
yang kelima. Banyak berdo’a dan permintaan kepada Alloh  untuk memperbaiki dan membersihkan hati serta memberinya petunjuk. Sebagaimana Firman Alloh  di dalam Qur’an Surat Al-An’am ayat 43, yang artinya.
“Maka mengapa mereka tidak memohon kepada Allah dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan”.
Teladan kita yang mulia Rosululloh  sendiri selalu memohon kepada Alloh  untuk kesucian hatinya. kokoh berjalan di atas kebenaran dan petunjuk.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari Ummu Salamah. Ia meriwayatkan bahwa doa Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam yang sering Beliau panjatkan ialah:

دِيْنِكَ عَلَى قَـلْبِيْ ثَـبِّتْ الْـقُلُـــــــــــوْبِ، يَـــامُـقَلِّبَ
Artinya: “wahai Tuhan Pembolak-balik hati/ teguhkanlah hatiku pada agama-Mu”. Hadits RIwayat at-Tirmidzi.
Yang keenam. Sering mengingat kehidupan akhirat.
Sesungguhnya kelalaian mengingat akhirat itu adalah penghambat segala kebaikan, kebajikan, dan merupakan pemicu setiap malapetaka dan kejahatan, Seseorang yang banyak mengingat akhirat, akan menyadarkan dirinya bahwa kehidupan sebenarnya, yang dia hidup selama-lamanya adalah kehidupan akhirat. Dengan demikian, hatinya lurus dalam mengendalikan jasad. Tindak tanduknya mencerminkan amal nyata yang ia tanam di dunia ini dengan harapan ia akan dapat menuai hasilnya yang baik di akhirat kelak.
Yang ketujuh. Membaca dan mempelajari sejarah kehidupan orang-orang yang shalih.
Ini pun bisa menjadi salah satu obat bagi hati. Banyak pelajaran tentang teguhnya hati dari hempasan badai kehidupan yang menerjang. Siapa saja yang memperhatikan dan mempelajari kehidupan atau sejarah suatu kaum berdasarkan pengetahuan dan penghayatan. maka niscaya hatinya dihidupkan kembali oleh Alloh  dan disucikan batinnya. Itulah sejarah dan perjalanan hidup Nabi  Sejarah kehidupan Beliau merupakan terapi untuk mempertebal iman dan memperbaiki hati.
 yang kedelapan.  Bersahabat dengan orang-orang shalih, bertakwa dan berbuat kebaikan.
Seseorang yang bergaul dengan orang yang bertakwa niscaya tidak celaka. Karena mereka tidak akan mengajak selain kepada kebaikan. Selamatlah hati dari terkena penyakit-penyakit hati. Sebaliknya, jika Anda bersahabat dengan orang-orang yang tidak shalih, tidak bertakwa dan tidak berbuat kebaikan, niscaya Anda akan celaka. Mereka akan mengajak Anda untuk melakukan berbagai kejelekan yang akan menyebabkan hati Anda menjadi kotor.
Alloh  secara tegas berfirman di dalam Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 28
Artinya “…Dan janganlah kamu mengikuti orang-orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya itu melewati batas”.

Pembaca yang Budiman, Demikianlah delapan obat untuk menyembuhkan penyakit hati, Berusahalah kita untuk memahami dengan baik dan mengamalkan dengan tekun, karena sesungguhnya kebahagiaan yang hakiki itu tidak akan dapat dicapai, kecuali dengan keselamatan dan kesucian hati. Dan tidak ada yang sempurna. yang lebih Bahagia, yang lebih baik, dan tidak ada pula yang lebih nikmat daripada kehidupan orang-orang yang berhati bersih juga mulia. Wallahu ‘alam
Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Tanggung Jawab Pendidikan Bagian 2

Pada tulisan sebelumnya (Tanggung Jawab pendidikan bagian 1) sudah dijelaskan mengenai tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak-anaknya menjadi anak yang ta’at kepada Alloh  , dan juga menjadi anak yang membanggakan bagi kedua orang tuanya kelak.
Hazm mengatakan, “Saya mendengar al-Hasan al-Bashri ditanya oleh Katsir bin Ziyad mengenai Firman Alloh Ta’ala,
“Ya Robb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. Qur’an Surat Al Furqan ayat 74.
Katsir bin Ziyad bertanya kepada al-Hasan, “Wahai Abu Sa’id, apakah yang dimaksud qurrata a’yun, penyenang hati dalam ayat ini terjadi di dunia ataukah di akhirat?. Maka al-Hasan pun menjawab, “Tidak, bahkan hal itu terjadi di dunia”. Katsir pun bertanya kembali, “Bagaimana bisa?”.
al-Hasan menjawab, “Demi Alloh, Alloh akan memperlihatkan kepada seorang hamba, istri, saudara dan teman yang taat kepada Alloh, dan demi Alloh tidak ada yang menyenangkan hati seorang muslim selain dirinya melihat anak, orang tua, teman dan saudara yang tumbuh dalam ketaatan kepada Alloh  ”.
Betapa indahnya, jika kita memandang anak-anak kita menjadi anak yang shalih, karena hal itu salah satu penyejuk pandangan kita. Namun yang patut kita perhatikan adalah faktor yang juga mengambil peran penting dalam pembentukan keshalehan anak adalah keshalihan orang tua itu sendiri. Jika kita menginginkan anak-anak shalih, maka kita juga harus menjadi orang yang shalih. Ada pepatah Arab yang bagus mengenai hal ini, yang berbunyi,
“Bagaimana bisa bayangan itu lurus sementara bendanya bengkok?”.
Kita selaku orang tua adalah bendanya, sedangkan anak-anak kita adalah bayangannya. Jika diri kita bengkok, maka anak pun akan bengkok dan rusak. Dan sebaliknya, jika diri kita lurus, maka insya Alloh anak-anak kita akan lurus.
Alloh   berfirman,
Artinya,
“Keturunan itu sebagiannya merupakan turunan dari yang lain…”. Qur’an Surat Ali Imran ayat 34.
Maksud dari ayat ini adalah orang tua yang baik, sumber yang baik, insya Alloh akan menghasilkan keturunan yang baik pula.
Keshalihan orang tua juga akan memberikan manfaat positif, karena Alloh Ta’ala akan menjaga sang anak sampai dewasanya.
Alloh   berfirman,
Artinya, “Adapun dinding rumah itu  adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh…”. Qur’an Surat Al Kahfi ayat 82.
Dalam ayat ini diberitakan, bahwa dikarenakan keshalihan orang tua, Alloh  menjaga dan memelihara sang anak, serta tidak mengecewakan orang tua. Oleh karenanya, keshalihan orang tua itu akan berpengaruh pada sang anak,
bahkan manfaat itu tidak terbatas pada sang anak semata, tapi juga berdampak kepada cucu-cucunya, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir rohimahulloh bahwa yang dimaksud ”sedang ayahnya adalah seorang yang shaleh” dalam ayat yang telah di bacakan tadi adalah kakek ketujuh dari dua anak tadi.
Dan kelak di surga, Alloh   pun akan mengumpulkan sang anak bersama orang tua mereka yang shalih, meskipun amalan sang anak tidak sebanding dengan amalan orang tuanya. Sebagaimana Firman Alloh   di dalam Qur’an Surat Ath-Thur ayat yang ke-21, yang artinya,
“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”.
Maka di sini Alloh   memasukkan anak-anak orang mukmin ke dalam surga dengan syarat mereka juga beriman. Maka, betapa menyenangkannya, jika kita berkumpul bersama keluarga kita di surga sebagaimana kita berkumpul di dunia ini. Meskipun amal ibadah sang anak tidak sepadan dengan kedua orang tuanya, amalnya kurang daripada orang tuanya, namun Alloh   tetap memasukkan keturunannya ke dalam surga. Karena apa?, karena keshalehan kedua orang tuanya.
Betapa pentingnya hal ini, yaitu menjadikan pribadi kita, yaitu orang tua, menjadi pribadi yang shalih, sampai-sampai salah seorang yang shalih pernah mengatakan,
“Wahai anakku, sesungguhnya aku memperbanyak shalat karenamu, dengan harapan Alloh   akan menjagamu.”
Ada seorang tabi’in yang bernama Sa’id ibn al-Musayyib rohimahulloh juga pernah berkata,
“Ada kalanya ketika aku sholat, aku teringat akan anakku, maka aku pun menambah sholatku, agar anak-anakku dijaga oleh Alloh Ta’ala”.
Maka, mari kita menjadikan diri kita sebagai pribadi yang baik, taat kepada Alloh   dan shalih, kita jalankan perintah-perintah Alloh   dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, dengan harapan nantinya Alloh   menjaga dan memelihara anak-anak kita.
Demikianlah pembahasan kita pada edisi kali ini, mudah-mudahan kita mendapatkan pelajaran dan hikmahnya, terlebih kita bisa mengamalkannya di dalam mendidik anak-anak kita sehari-hari. Wallohu a’lam. (redaksi/admin)

Tidak Berlebihan Dalam Beragama

Sikap ghuluw atau melampaui batas atau berlebih-berlebihan dalam agama adalah sikap yang tercela dan dilarang oleh syariat. Sikap ini tidak akan mendatangkan kebaikan bagi pelakunya, juga tidak akan membuahkan hasil yang baik dalam segala urusan.Terlebih lagi dalam urusan agama.
Banyak sekali dalil-dalil al-Qur’ân dan Sunnah yang memperingatkan dan mengharamkan ghuluw atau sikap melampaui batas tersebut.
Salah satunya adalah seperti yang Allah  sebutkan di dalam quran surat al-Maidah ayat 77.
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ
 “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara tidak benar dalam agamamu.
Kemudian juga di dalam hadits yang diriwayatkan oleh an-Nasa’I dan Ibnu Majjah, Rasulullah  bersabda.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ
Wahai sekalian manusia, jauhilah sikap ghuluw atau melampaui batas dalam agama. Sesungguhnya perkara yang membinasakan umat sebelum kalian adalah sikap ghuluw mereka dalam agama.
Nah, seperti apa sih yang dimaksud sifat ghuluw dalam beragama. sikap ghuluw dalam beragama berarti perbuatan yang berlebih-lebihan melampaui batas yang ditetapkan oleh Syariat, baik berupa keyakinan atau perbuatan.
Selain berlebih-lebihan, ada juga istilah lain yang bisa kita gunakan.
Yang pertama, bersikap ekstrim.
Hal ini sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Rasulullah  bersabda.
هَلَكَ المُتَنَطِّعُوْنَ
Yang artinya. Celakalah orang-orang yang ekstrim!” dan Beliau mengucapkannya tiga kali.
Kemudian yang kedua, ghuluw bisa berarti Tasyaddud atau Memberat-Beratkan Diri.
Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah  bersabda di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud.
لاَ تُشَدِّدُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَيُشَدِّدُ اللهُ عَلَيْكُمْ
Janganlah kamu memberat-beratkan dirimu sendiri, sehingga Allah Azza wa Jalla akan memberatkan dirimu.
Kemudian juga di dalam riwayat yang lain disebutkan.
إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ اَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ
Sesungguhnya agama ini mudah, Dan tiada seseorang yang mencoba mempersulit diri dalam agama ini melainkan ia pasti kalah.
Kemudian yang ketiga, Ghuluw bisa juga berarti I’tida atau melampui batas ketentuan syariat.
Hal ini sebagaimana yang Allah  firmankan di dalam quran surat al-Baqoroh ayat 190.
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Kemudian juga di dalam quran surat al-baqoroh ayat 187.
تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا
Itulah batasan-batasan hukum Allah  , maka janganlah kalian melampauinya.
Selanjutnya yang keempat, ghuluw bisa juga berarti takalluf atau memaksakan diri,
Nah, mungkin kita bertanya-tanya, apa sih yang menyebabkan sikap berlebihan dalam Bergama?
Setidaknya, sikap berlebihan dalam beragama berangkat dari beberapa sebab.
Yang pertama. Kebodohan dalam agama.  Ini meliputi kebodohan terhadap tujuan inti syariat Islam dan kaidah-kaidahnya serta kebodohan dalam memahami nash-nash al-Qur’ân dan Sunnah. Sehingga kita lihat sebagian pemuda yang memiliki semangat akan tetapi masih dangkal pemahaman dan ilmunya terjebak dalam sikap ghuluw.
Kemudian sebab ghuluw yang kedua adalah taklid atau ikut-ikutan. Taqlîd hakikatnya adalah kebodohan. Termasuk di antaranya adalah mengikuti secara membabi-buta adat istiadat manusia yang bertentangan dengan syariat Islam serta mengikuti tokoh-tokoh adat yang menyesatkan. Kebanyakan sikap ghuluw dalam agama yang berlaku di tengah-tengah masyarakat berasal dari sikap taklid.
Yang ketiga, karena hawa nafsu. Timbangan hawa nafsu ini adalah akal dan perasaan. Sementara akal dan perasaan tanpa bimbingan wahyu akan bersifat liar dan keluar dari batasan-batasan syariat.
Dan sebab sikap ghuluw yang keempat adalah, Berdalil dengan hadits-hadits lemah dan palsu. Hadits-hadits lemah dan palsu tidak bisa dijadikan sandaran hukum syar’i. Dan pada umumnya hadits-hadits tersebut dikarang dan dibuat-buat bertujuan menambah semangat beribadah atau untuk memperkuat sebuah keyakinan sesat.
Selain itu sahabat, sikap ghuluw ini juga banyak macamnya. secara garis besar ghuluw itu ada dalam bentuk keyakinan, perkataan dan amal perbuatan.
Adapun Ghuluw dalam bentuk keyakinan misalnya sikap berlebih-lebihan terhadap para malaikat, Nabi dan orang-orang shalih dengan meyakini mereka sebagai tuhan. Atau meyakini para wali dan orang-orang shalih sebagai orang-orang yang ma’shûm alias bersih dari dosa.
Sedangkan Ghuluw dalam bentuk ucapan misalnya, puji-pujian yang berlebih-lebihan terhadap seseorang, doa-doa dan dzikir-dzikir yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah  dan para sahabatnya.
Ghuluw dalam bentuk amal perbuatan misalnya mengikuti was-was dalam bersuci atau ketika hendak bertakbiratulihrom. sehingga kita dapati seseorang berulang-ulang berwudhu’ karena mengikuti waswas. Demikian seseorang yang berulang-ulang bertakbîratul ihrâm karena anggapan belum sesuai dengan niat dalam hatinya.
Dan yang terakhir, ghuluw dalam semangat. Jenis ini biasanya merasuki para pemuda yang memiliki semangat keagamaan yang berlebih-lebihan, akan tetapi dangkal pemahaman agamanya. Sehingga mereka jatuh dalam sikap sembrono dalam menjatuhkan vonis kafir, fasiq dan bid’ah secara sembarangan. Nah, sahabat, makanya kita harus hati-hati berkaitan dengan hal ini.
Virus ghuluw ini biasanya diawali dengan sesuatu yang sepele namun dalam waktu singkat akan digandrungi sehingga kemudian meluas. Orang-orang yang bersikap ghuluw dalam agama akan berbicara tentang agama tanpa ilmu, sehingga akhirnya mereka sesat dan menyesatkan orang lain dari jalan yang lurus. Sikap ghuluw inilah yang merupakan penyebab munculnya seluruh penyimpangan dalam agama, demikian juga penyimpangan dalam sikap dan perbuatan.
Islam telah menentang semua perkara yang mengarah kepada sikap ghuluw atau berlebih-lebihan.
Makanya  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  berkata. “Agama Allah Azza wa Jalla adalah agama pertengahan, antara sikap ekstrim atau berlebih-lebihan dan sikap moderat atau terlalu longgar.
Jadi kita harus berada di tengah-tengah, kita umpamakan sisi kanan kita sikap ektrem, dan sisi kiri kita sikap moderat atau terlalu longgar. Kita jangan sampai condong ke kiri atau ke kanan, kita harus ajeg.
Cobalah kita lihat sahabat, ada diantara saudara kita yang ektrem sampai-sampai gampang memvonis kafir. ada juga yang moderat sampai-sampai serba membolehkan dan meremehkan hal yang dilarang. Bahkan banyak kaum muda yang jauh dari islam, islam hanya nangkring di KTP saja, bukan dijadikan sebagai ideology hidup.
Mari kita berdoa kepada Allah  semoga Allah  menolong kita untuk selalu istiqomah dalam kebaikan, dan juga berdoa semoga terhindar dari sikap ghuluw dalam beramal dan berkeyakinan,
Wallahu a’lam.
BANNER 728X90
Copyright © | by: Me