Syarat-syarat Laa ilaha Illallah (2)

Oleh: Ust. Umar Muhsin, Lc., M.Pd.I.
Kemudian syarat LaailaahaIllallah yang Keempat, adalah al-Inqiyād (yakni tunduk dan pasarah).
Perbedaan antara al-inqiyād atau tunduk dengan al-qabūl atau menerima adalah bahwa al-inqiyād artinya mengikuti dengan perbuatan. Sedangkan al-qabūl adalah menampakkan kebenaran yang dikandung makna syahadat dengan ucapan, meskipun dalam keduanya sama-sama terkandung makna ittibā’ (mengikuti). Jadi, al-Inqiyād artinya menyerahkan diri dan tunduk secara total terhadap hukum-hukum Allah. Allah azza wa jalla berfirman:
“Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” (QS. Luqmān [31]: 22)
Salah satu Bentuk ketundukkan kepada Allah ta’ala adalah dengan beribadah hanya kepada-Nya, sedangkan bentuk inqiyād kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam adalah dengan menerima sunnah-nya dan mengikuti syari’atnya serta ridha terhadap hukumnya, sebab jika seorang hamba telah menerima dan melaksanakan hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya, berarti ia telah benar imannya.
Kelima, adalah al-Shidq yaitu benar atau jujur. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya:
Barangsiapa yang mengucapkan Lā Ilāha Illallah dan benar-benar keluar dari lubuk hatinya, niscaya ia masuk surga.” (HR. Ahmad)
Adapun orang yang mengucapkan syahadat dengan lisannya saja, namun dia mengingkari kandungannya, maka dia tidak disebut sebagai orang yang jujur dalam syahadatnya dan ia tidak akan masuk surga sebagaimana orang-orang munafik yang Allah kisahkan ceritanya dalam firman-Nya:
“Di antara manusia ada yang mengatakan: Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (QS. al-Baqarah (2): 8)
Syarat Laailaaha Illallah yang Keenam, adalah al-Ikhlāsh yaitu memurnikan kalimat LailahaIllallah. Sedangkan Kebalikannya adalah syirik atau tidak ikhlāsh.
Maksud ikhlāsh di sini adalah beribadah hanya kepada Allahsemata, tanpa menyelewengkan salah satu bentuk ibadah tersebut kepada selain-Nya, baik itu kepada malaikat yang dekat dengan-Nya ataupun kepada nabi yang diutus. Adapun Ikhlāsh dalam mengikuti Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam adalah dengan cara mencukupkan diri hanya mengikuti sunnahnya, mengikuti hukumnya, menjauhi bid’ah dan hal-hal yang menyelisihi sunnahnya, serta dengan meninggalkan hukum, undang-undang ataupun adat-istiadat buatan manusia yang bertentangan dengan syari’at beliau shalallahu alaihi wasallam. Maka dari itu, siapa saja yang ridha dengan hukum (buatan) tersebut atau memutuskan hukum dengan hukum Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, berarti dia adalah orang yang tidak ikhlāsh. Allah ta’ala berfirman:
Maka beribadahlah kepadaAllah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).”  (QS. al-Zumar [39]: 2-3)
Selain itu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga bersabda:
Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku adalah yang mengucapkan Lā Ilāha Illallah dengan ikhlash dari dalam hatinya.”  (HR. Bukhori)
Kemudian, syarat yang terakhir atau Ketujuhal-Mahabbah (mencintai).
Maksudnya seorang hamba wajib mencintai Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya serta mencintai semua perkataan dan perbuatan baik. Selain itu, termasuk bagian mencintau Allah dan Rasul-Nya adalah mencintai wali-wali-Nya dari kalangan para Nabi, Shiddiqin, syuhada dan kaum muslimin yang taat dan tidak bermaksiat kepada Allah. Cinta yang benar mempunyai pengaruh yang kuat bagi anggota badan seorang hamba. Maka kita akan melihat seorang hamba yang benar-benar taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, beribadah kepada-Nya dengan sebenar-benarnya, merasa nikmat dalam ketaatan kepada-Nya serta bersegera mengerjakan semua perkataan dan perbuatan yang menimbulkan kecintaan-Nya. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
Tiga hal apabila ketiganya terdapat dalam diri seseorang, maka dia akan mendapatkan manisnya iman, (yaitu) menjadikan Allah dan Rosul-Nya lebih dicintai melebihi selain keduanya, seseorang mencintai orang lain dan dia tidak mencintainya kecuali karena Allah dan dia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana dia membenci untuk dilemparkan kedalam neraka.” (HR. Bukhari & Muslim)
Selain itu, kita juga akan melihat bahwa orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah orang yang sangat berhati-hati dan takut dari berbuat maksiat dengan menjauhinya, dan membenci para pelakunya. Kalau seperti ini, maka itulah cinta yang benar lagi tulus.
Demikianlah beberapa syarat syahadat yang harus kita tunaikan dan laksanakan pada kehidupan sehari-hariSemoga kita dapat mengamalkan dan mendakwahkannya. Amin. Wallahu a’lam
[Selesai]

Syarat-syarat Laa ilaha Illallah (1)

Oleh: Ust. Umar Muhsin, Lc., M.Pd.I.
Kalimat LailaahalIllallah adalah kalimat agung dalam Islam. Bahkan kalimat ini menjadi kunci masuk surganya seorang muslim. Akan tetapi, untuk benar-benar dapat meraih surga, seorang muslim harus memenuhi syarat-syarat Laa ilaaha Illallah. Dalam kitab sohih al-Bukhori disebutkan bahwa seorang Tabi’in bernama Wahb bin Munabbih rahimahullah pernah ditanya:
Bukankah kalimat Laa ilaaha Illallah itu kunci masuk surga?”
Wahb bin Munabbih rahimahullah menjawab:
Betul bahwa kalimat Laa ilaaha Illallah itu kunci masuk surga, akan tetapi setiap kunci pasti memiliki geriginya. Jika engkau membawa kunci yang tepat geriginya, maka pintu tersebut akan kebuka. Sebaliknya, jika kunci yang engkau bawa tersebut tidak cocok geriginya, maka pintu tersebut tidak akan bisa engkau buka.
Pintu surga itu dapat kita buka, jika kita memiliki gerigi-gerigi di kunci surga yang telah kita ucapkan, maksudnya yaitu kita tidak bisa memasuki surga kecuali telah memenuhi syarat-syarat Laa ilaaha Illallah. Lalu Apa Syarat-syarat Laa ilaaha Illallah?
Para ulama telah menetapkan adanya tujuh syarat Laa ilaaha Illallah yang harus dipenuhi oleh setiap muslim. ketujuh syarat ini ditetapkan oleh para ulama, berdasarkan penelitian mereka terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.
Dalam kitab Syarah Arkanul Islam dijelaskan tentang penjelasan ketujuh syarat ini, di antaranya:
Pertama, al-‘Ilm yaitu mengetahui dan memahami hakikat Laa ilaaha Illallah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (Yang Haq) melainkan Allah” (QS. Muhammad [47]: 19)
Selain itu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga bersabda
Barangsiapa meninggal dunia dan dia mengetahui tentang La Ilaha Illallah, niscaya masuk surga.” (HR. Muslim)
Maksud dari syarat pertama ini adalah kita harus mengetahui secara hakiki kandungan dan tuntutan amal dua kalimat syahadat. Selain itu kita pun tidak boleh Jahil atau bodoh seperti bodohnya orang-orang musyrik dari ummat ini yang mengingkari makna Laa ilaaha Illallah, walaupun mereka seringkali mengucapkannya. Sebab maksud dari syahadat adalah maknanya, bukan lafazh-nya saja. Itulah yang menyebabkan orang-orang musyrik dahulu yang mengerti Makna laa ilaaha Illallah mengingkari kandungannya seraya berkata,
Mengapa ia menjadikan ilah-ilah itu Ilah Yang Satu saja.”(QS. Shod [38]: 5)
Syarat kedua dari Laa ilaaha Illallah adalah al-Yaqīn yaitu meyakini. Sedangkan Kebalikannya adalah syak atau ragu.
Maksudnya, siapa yang telah berikrar dengan dua kalimat syahadat, maka ia harus meyakini di dalam hatinya tentang kebenaran ucapannya, kebenaran hak-hak ketuhanan Allah, kebenaran akan kenabian Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, kebatilan peribadahan selain Allah, dan kebatilan orang yang mengaku Nabi setelah Nabi Muhammadshalallahu alaihi wasallam. Apabila kita ragu terhadap kebenaran maknanya atau ragu terhadap kebatilan ibadah kepada selain Allah, maka dua kalimat syahadat yang kita ucapkan tidak akan memberikan manfaat apa-apa. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
Tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan membawa dua kalimat syahadat dan tidak ragu-ragu terhadapnya, kecuali dia akan masuk surga.” (HR. Muslim)
Sehingga, tidak diragukan lagi bahwa orang yang meyakini makna dua kalimat syahadat, maka seluruh anggota badannya akan tergerak untuk beribadah hanya kepada Allah semata dan akan taat kepada Rosul-Nya.
Selanjutnya syarat Ketiga dari syahadat adalahal-Qabūl (atau menerima), dengan meniadakan penolakan.
Ada orang yang mengetahui makna dua kalimat syahadat dan meyakini kandungannya, namun ternyata dia menolaknya. Baik karena sombong ataupun karena dengki. Hal ini sebagaimana yang dialami oleh para ulama Yahudi dan Nashrani yang telah bersaksi akan ketuhanan Allah dan mengetahui Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, sebagaimana mereka mengetahui anak-anaknya sendiri, namun tetap saja mereka menolaknya. Demikian pula yang terjadi pada orang-orang musyrik yang mengetahui makna La Ilaha Illallah dan kebenaran Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, tetapi tidak mau menerimanya karena sombong.  Allah ta’ala berfirman:
Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, “La Ilaha Illallah (Tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah), mereka menyom-bongkan diri” (QS. ash-Shoffat [37]: 35)

Makna Dua Kalimat Syahadat


Oleh: Ust. Umar Muhsin, Lc., M.Pd.I.
Salah satu perkara akidah yang harus diketahui oleh setiap muslim adalah hakikat makna dua kalimat syahadat. Walaupun kaum muslimin sering mengucapkannya, tetapi masih banyak yang belum mengerti tentang makna yang sebenarnya. Akibatnya, tidak sedikit di antara kaum muslimin yang melakukan amalan ataupun perbuatan yang bertentangan dengan makna kedua kalimat syahadat.
Berkaitan dengan makna dua kalimat syahadat, dalam kitab Majmu’ Fatawa Arkanil Islam, soal no: 17, disebutkan bahwa “Syahadat Laa Ilaha Illallah dan Muhammad Rasulullah keduanya adalah kunci Islam, tidak mungkin seseorang masuk Islam kecuali dengan keduanya.
Oleh karena itu, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam memerintahkan Muadz bin Jabal radhiallahu anhu ketika beliau shalallahu alaihi wasallam mengutusnya ke Yaman agar pertama kali yang dia serukan kepada mereka adalah persaksian bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah.
Kalimat pertama yaitu Laa Ilaha Illallah, artiya seseorang mengakui dengan lisan dan hatinya bahwasannya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Karena Ilah maknanya al-ma’luh atau yang diibadahi, jadi tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah semata.
Selain itu Kalimat pertama ini mengandung pula makna peniadaan dan penetapan. Kalimat laa ilaha adalah peniadaan sesembahan, jadi tidak ada sesembahan apapun di jagat raya ini.
Sedangkan Kalimat illallahu adalah penetapan, maksudnya setelah meniadakan sesembahan apapun, maka setelah itu kita harus menetapkan bahwa yang berhak disembah hanyalah Allah. Kemudian Kalimat ini juga mengandung makna ikhlash atau memurnikan ibadah hanya untuk Allah saja dengan meniadakan ibadah kepada selain-Nya.
Di dunia ini banyak sekali sesembahan selain Allah, seperti pepohonan, bebatuan, Pegunungan, manusia, setan, jin, bintang, matahari dan lain sebagainya. Akan tetapi, semua sesembahan itu adalah sesembahan batil, berdasarkan kalimat laa ilaha illallahu. Selanjutnya dari segi penamaan sesembahan-sesembahan itu juga disebut dengan ilah. Berkaitan dengan hal ini Allah ta’ala berfirman:
Janganlah kamu mengadakan sesembahan-sesembahan lain di samping Allah…” (QS. al-Isro :39)
Jadi, sekali lagi ditegaskan bahwa seluruh yang disembah oleh manusia di muka bumi ini adalah batil kecuali Allah. Hanya Dia-lah satu-satunya Tuhan yang benar dan berhak disembah. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala,
Demikianlah, karena sesungguhnya Allah benar-benar Tuhan yang berhak diibadahi dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah adalah Tuhan yang batil. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Luqman :30)
Kemudian pendengar, Dalil lain yang menegaskan bahwa Tuhan-tuhan selain Allah adalah batil yaitu firman-Nya tentang Nabi Yusuf alaihissalaam , Allah ta’alaa berfirman,
Kalian tidak menyembah selain Allah kecuali hanya menyembah nama-nama yang kalian dan nenek moyang kalianbuat-buat. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu.(QS. Yusuf : 40)
Jadi, sekali lagi, makna kalimat laa ilaha illallahu adalah tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah subhanahu wa ta’ala semata. Adapun sesembahan-sesembahan selain-Nya sebenarnya tidak mempunyai sifat ketuhanan sedikitpun.
Adapun makna kalimat syahadat yang ke dua, yakni Muhammadur Rasulullah adalah mengikrarkan dengan lisan dan mengimani dengan hati bahwa Muhammad bin Abdillah Al-Quroisyi Al-Hasyimi adalah utusan Allah kepada seluruh makhluk, baik jin maupun manusia. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat berikut ini:
Katakanlah wahai Muhammad, “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada sesembahan selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kalian kepada Allah dan Rosul-Nya. Yaitu seorang nabi yang tidak bisa membaca dan menulis; yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya. Ikutilah dia, supaya kalian mendapat petunjuk.” (QS. al-A’rof :158)
Kemudian, setelah seorang hamba mengikrarkan bahwa Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam adalah utusan Allah maka hal ini berkonsekuensi untuk membenarkan seluruh kabar yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, melaksanakan apa yang beliau perintahkan, menjauhi apa yang beliau larang, dan tidak beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala kecuali dengan cara yang disyariatkan olehnya.
Selain itu, syahadat rasul ini juga menuntut kita agar meyakini bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak mempunyai hak dalam rububiyyah yaitu hak untuk mengatur alam semesta, sehingga tidak boleh menyembahnya. Akan tetapi, beliau adalah seorang hamba sekaligus seorang rasul yang tidak memiliki kemampuan sedikitpun untuk memberi manfaat dan menolak mudhorot untuk dirinya sendiri maupun orang lain, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala:
Katakanlah (ya Muhammad),“Aku tidak mengatakan kepada kalian, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku pun tidak mengetahui perkara ghoib dan aku pun tidak mengatakan kepada kalian bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku…” (QS. al-An’am: 50)
Allah ta’ala juga berfirman:
Katakanlah, “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemanfaatan bagi diriku dan juga tidak bisa menolak kemudhorotan kecuali yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang ghoib, tentulah aku berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudhorotan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. al-A’rof: 188)
Inilah pendengar, makna dua kalimat syahadat yang menjadi pondasi Islam. Dengan demikian, kita tahu bahwasanya tidak ada seorang pun yang berhak diibadahi baik Rasulullah shalallahu alaihi wasallam maupun makhluk lainnya. Karena sesungguhnya ibadah itu hanyalah untuk Allah semata. Sebagaimana firman Allah:
Katakanlah, “Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb alam semesta, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. al-An’am: 162-163)
Demikianlah, penjelasan singkat tentang hakikat makna dua kalimat syahadat. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin, Wallohu Ta’ala a’lam…

Mengagungkan Al Quran dan As-sunnah

Pada masa kini merebaknya aliran sesat di pelosok Nusantara sangat menjamur. Mereka berani mempopulerkan dan mendakwahkan secara terang-terangan keyakinan mereka yang sesat lagi menyesatkan. Ada di antara mereka yang lancang melontarkan pernyataan bahwa sumber hukum Islam cukup dengan al-Qur’an semata, hingga pada akhirnya, mereka menolak segala hukum aqidah,fikih, dan muamalah yang bersumber dari hadits Rosululloh  . Mereka menolak adzan dan iqomah dalam sholat dengan dalih hal itu tidak terdapat dalam al-Qur’an. Menurut mereka kewajiban sholat dalam satu hari hanya dua waktu, yaitu di waktu pagi dan petang dengan alasan itulah yang diperintahkan dalam al-Qur’an.Mereka membolehkan mengenakan baju jas bukan baju ihrom pada saat menunaikan ibadah haji dengan dalih pakaian haji secara khusus tidak diatur di dalam al-Qur’an. Itulah beberapa pemahaman yang aneh dan sesat.
Ada juga di antara mereka yang memahami sumber agama Islam secara bebas berdasarkan hawa nafsu semata. Mereka tidak berpijak kepada kaidah-kaidah syar’i dalam memahami al-Qur’an dan as-Sunnah. Seperti halnya mereka mengatakan bahwa semua agama benar, bolehnya seorang berpindah agama kepada selain Islam, bolehnya berzina asal suka sama suka, bolehnya meninggalkan sholat asalkan masih ingat kepada Alloh dan pemahaman lain yang menyimpang.
Ada pula di antara mereka yang berani menolak al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedoman beragama. Sumber agama diambil dan dirujuk dari ucapan para imam yang mereka kultuskan. Praktek hal ini sebagaimana kaum Syi’ah yang menetapkan kawin mut’ah atau kontrak sebagai sarana mendekatkan diri kepada Alloh .
Fenomena dan realita ini sungguh sangat membahayakan bagi kalangan umum umat Islam. Mereka yang tidak mengetahui metodelogi yang benar dalam menimba ilmu agama tentu akan terjerat oleh keyakinan dan ideologi sesat. Bahkan, bisa mengikuti aliran sesat tersebut dan mendukung seruannya secara totalitas. Bagi mereka yang mengetahui metodelogi mengambil ilmu dan standar kebenaran tentunya tidak mudah menerima ajaran agama yang sumbernya tidak benar. Ia pun akan selektif menerima ilmu. Apabila mendapatkan ilmu dan amalan yang selaras dengan al-Qur’an dan as-sunnah, niscaya diterima dengan lapang dada. Jika tidak, niscaya ditolak.
Nah, Agar seorang muslim mampu menolak berbagai virus aliran sesat, maka sangat dibutuhkan imunisasi berupa penguatan aqidah islam yang benar. Bentuk imunisasi itu, yaitu setiap orang muslim berkewajiban mengagungkan al-Qur’an dan as-Sunnah.
Mengagungkan dan mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan kunci terbesar bagi seorang hamba agar selamat dari virus kesesatan dan penyimpangan dalam beragama. Hal ini sebagaimana firman Alloh  dalam al-Qur’an Surat Thoha ayat ke 123 yang berbunyi, a’udzu billahi minasyaithonirrojim;
قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى
Alloh berfirman kepada Adam dan Hawa, “Turunlah kalian dari surga semuanya bersama Iblis, maka Iblis menjadi musuh kalian berdua. Jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, maka ketahuilah barangsiapa mengikuti-Ku serta mengamalkannya, maka ia tidak akan tersesat di dunia, dan tidak akan celaka di akhirat..”
Mengenai ayat tersebut, Ibnu Jarir ath-Thobari  mengatakan bahwa Alloh -st- berfirman kepada Adam dan Hawa, ‘Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain.’ Maksud ayat ini adalah kalian berdua musuh bagi iblis dan keturunannya. Begitupula iblis musuh bagi kalian berdua dan keturunan kalian berdua. Adapun firman-Nya, ‘Jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku’, maksudnya adalah Wahai Adam, Hawa, dan iblis jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, maksudnya adalah penjelasan untuk meniti jalan yang lurus dan agama yang Alloh pilih untuk makhluknya.
Sedangkan Firman-Nya, ‘maka ketahuilah barangsiapa mengikuti-Ku serta mengamalkannya’, yaitu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku dan beramal dengannya, niscaya ia tidak akan menyimpang dari jalan Alloh . Selanjutnya Firman-Nya, yang artinya ‘Tidak tersesat, maksudnya adalah yaitu tidak menyimpang dari kebenaran akan tetapi dia senantiasa dibimbing dan diberi petunjuk di dunia ini. Lalu Firman-Nya, ‘dan tidak akan celaka di akhirat’ yaitu tidak akan celaka di akhirat dengan siksa Alloh karena Alloh  akan memasukannya kedalam surga dan menyelamatkannya dari siksa-Nya.
Sesungguhnya dasar agama Islam yang telah diridhoi Alloh -st- untuk hamba-hamba-Nya yang Mukmin adalah berserah diri, tunduk secara totalitas, dan pasrah kepada-Nya. Sesungguhnya dasar agama Islam bukanlah menuruti atau menuhankan hawa nafsu. Bukan pula mengedepankan logika manusia. Bukan pula mengikuti nenek moyang atau adat istiadat. Bukan pula mengikuti pendapat guru atau kiai.
Berkaitan dengan ini, Alloh  berfirman dalam al-Qur’an Surat az-Zumar ayat ke 54 yang berbunyi, a’udzu billahi minasyaithonirrojim;
( وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
“Dan kembalilah kalian kepada Robb kalian, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepada kalian kemudian kalian tidak dapat ditolong lagi.”
Hakekat berserah diri adalah mengagungkan seluruh perintah dan larangan Alloh-st- , tunduk terhadap keduanya dan berhenti di depan batasan-batasan yang telah ditetapkan Alloh -st- kepada Nabi-Nya . Segala yang diperintahkan oleh Alloh  , maka dikerjakan penuh dengan sukarela. Segala yang dilarang Alloh -st- , maka ditinggalkan dengan lapang dada. Segala yang ditetapkan oleh-Nya terkait dengan halal dan haram, maka tidak akan menambahi dan menguranginya walaupun seujung kukupun.
Sifat orang beriman ketika di hadapannya terdapat perintah Alloh -st- dan larangan-Nya adalah tidak pernah  menanyakan tentang alasan atau hikmah-Nya. Alasan atau hikmah sebuah perintah terkadang Alloh  kabarkan secara jelas kepada manusia. Seperti larangan minum khomr karena merusak akal, larangan berzina karena merusak garis keturunan dan lain-lain. Di samping itu, ada pula alasan atau hikmah perintah maupun larangan Alloh -st- dan Rosul-Nya yang tak dapat diungkap oleh manusia.
Orang-orang beriman senantiasa mendengar dan patuh terhadap ketetapan Alloh    dan Rosul-Nya . Sebab mereka mengetahui bahwa yang demikian merupakan sebab memperoleh keberuntungan dan kemenangan. mMereka rela meninggalkan apa yang menjadi hobi dan kesukaan mereka, bahkan lebih dari itu merekapun bersedia menghentikan tradisi-tradisi yang membudaya di kalangan mereka yang tidak sesuai dengan syariat Alloh -st-. Maka sebagai seorang mu’min ketika datang seruan Alloh -st-  dan Rosul-Nya   adalah “Kami mendengar dan kami taat”. Hal ini sebagaimana firman Alloh  dalam al-Qur’an Surat an-Nur ayat 51-52 yang berbunyi,
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ .  وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
 “Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin, jika diajak untuk berhukum kepada kitab Alloh dan hukum Rosul-Nya dalam perselisihan mereka. Mereka menerima hukum tersebut dan berkata “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Alloh dan Rosul-Nya dan takut kepada Alloh dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.”
Termasuk bagian dari mengagungkan adalah mendahulukan al-Qur’an dan as-Sunnah dalam menetapkan dan memutuskan hukum serta tidak mengabaikan keduanya dengan mendahulukan ucapan seseorang, siapapun orang tersebut. Sikap orang yang beriman tidak mendahulukan ucapan ustadz, kiai, ajengan, habib atau siapapun di atas firman Alloh  dan sabda Rosul-Nya . Hal ini sebagaimana firman Alloh  dalam al-Qur’an Surat Al-Hujurot ayat ke 1 yang berbunyi;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Alloh dan Rosul-Nya dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”
Alloh -st- meniadakan keimanan secara keseluruhan pada diri seseorang yang berpaling dari hukum Nabi  dan tidak ridho terhadapnya, atau orang yang masih keberatan dalam hatinya terhadap hukum tersebut. Hal ini sebagaimana firman Alloh  dalam al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat ke 65 Alloh berfirman;
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Robbmu, mereka pada hakekat-nya tidak beriman, hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
Demikianlah pembahasan tentang mengagungkan al-Qur’an dan as-sunnah. Semoga Alloh -st-   memberikan hidayah kepada kita semua untuk senantiasa menaati perintah Alloh  dan Rosul-Nya . Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.
BANNER 728X90
Copyright © | by: Me