DELAPAN OBAT HATI

Hati manusia terkadang tidak stabil atau sakit seperti halnya badan meskipun berbeda antara sifat maupun obatnya. Lalu apa obat yang bisa dipakai untuk mengobati hati yang sakit? Berikut diantaranya:
Yang pertama. Al-Qur’an al-Karim
Sebagaimana Alloh  berfirman di dalam Qur’an Surat Yunus ayat 57
Artinya “Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Alloh dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”.
Alloh  juga berfirman, di dalam Qur’an Surat Al-Isro ayat 82
Artinya “Dan Kami turunkan dari al-Quran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”.
Ibnu Qoyyim  berkata “Inti penyakit hati itu adalah syubhat dan nafsu syahwat. Sedangkan al-Qur’an adalah penawar bagi kedua penyakit itu, karena di dalamnya terdapat penjelasan-penjelasan dan argumentasi-argumentasi yang akurat, yang membedakan antara yang haq dengan yang batil, sehingga penyakit syubhat hilang. Dan penyembuhan al-Qur’an terhadap penyakit nafsu syahwat, karena di dalam al-Qur’an terdapat hikmah, nasihat yang baik, mengajak zuhud di dunia dan lebih mengutamakan kehidupan akhirat”.
Orang yang ingin memperbaiki hatinya hendaknya mengetahui bahwa berobat dengan al-Qur’an itu tidak cukup hanya dengan membaca al-Qur’an saja, tetapi harus memahami, mengambil pelajaran dan mematuhi hukum-hukum yang terkandung di dalamnya.
Yang kedua. Cinta kepada Alloh 
Cinta kepada Alloh merupakan terapi yang mujarab bagi hati. Cinta seorang hamba kepada Alloh akan menjadikan hatinya tunduk kepada-Nya, merasa tenteram tatkala mengingat-Nya, mengorbankan perasaannya demi sang kekasihnya, yaitu Alloh  Hatinya senantiasa mengharap kepada yang dicintainya untuk memecahkan problem yang ia hadapi. Ia pun tak putus asa dari kasih sayang-Nya. Ia yakin bahwa yang dicintainya adalah Dzat yang tepat untuk mengadukan berbagai masalah. Ia yakin akan diberikan solusi yang terbaik untuknya. Kecintaan kepada-Nya menyebabkan dapat menikmati manisnya iman yang bersemayam di dalam hati.
Yang ketiga. Berdzikir kepada Alloh 
Ketidaktenteraman hati merupakan hal yang membahayakan. Alloh ‘Azza wa Jalla memberikan salah satu obat yang bisa menjadi sarana terapi keadaan hati yang demikian. Sebagaimana Firman Alloh  di dalam Qur’an Surat Ar-Ro’d ayat 28
Artinya: “Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram”.
Obat ini menjadikan hati seseorang hidup/ terhindar dari kekerasan dan kegelapan Ibnu Qayyim  berkata “Segala sesuatu itu mempunyai penerang, dan sesungguhnya penerang hati itu adalah dzikrulloh, mengingat Alloh.
Suatu ketika, seseorang berkata kepada Hasan al-Basri, “Wahai Abu Sa’id aku mengadu kepadamu, hati saya membatu. ”Maka beliau menjawab, “Lunakkanlah dengan dzikir, karena tidak ada yang dapat melunakkan kerasnya hati yang sebanding dengan dzikrullah”.
Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam pun senantiasa berdzikir kepada Alloh  pada setiap saat.
Yang keempat. Taubat nasuha dan banyak beristighfar, meminta ampun kepada Alloh 
Perhatikanlah sabda Rosululloh 
“Sesungguhnya hatiku kadang keruh, maka aku beristighfar dalam satu hari sebanyak seratus kali”. Hadits Riwayat Ahmad.
Dalam hadis ini Nabi  menjelaskan bahwa Beliau menghilangkan kabut atau kekeruhan hati Beliau dengan istighfar, padahal dosa-dosa Beliau yang telah lalu maupun yang akan datang telah diampuni oleh Alloh  Bagaimanakah dengan kita yang banyak dosa dan banyak melakukan kemaksiatan?. Tidakkah kita lebih membutuhkan istighfar untuk hati kita yang sakit? Demi Alloh, betapa kita semua, sangat membutuhkan istighfar.
yang kelima. Banyak berdo’a dan permintaan kepada Alloh  untuk memperbaiki dan membersihkan hati serta memberinya petunjuk. Sebagaimana Firman Alloh  di dalam Qur’an Surat Al-An’am ayat 43, yang artinya.
“Maka mengapa mereka tidak memohon kepada Allah dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan”.
Teladan kita yang mulia Rosululloh  sendiri selalu memohon kepada Alloh  untuk kesucian hatinya. kokoh berjalan di atas kebenaran dan petunjuk.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari Ummu Salamah. Ia meriwayatkan bahwa doa Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam yang sering Beliau panjatkan ialah:

دِيْنِكَ عَلَى قَـلْبِيْ ثَـبِّتْ الْـقُلُـــــــــــوْبِ، يَـــامُـقَلِّبَ
Artinya: “wahai Tuhan Pembolak-balik hati/ teguhkanlah hatiku pada agama-Mu”. Hadits RIwayat at-Tirmidzi.
Yang keenam. Sering mengingat kehidupan akhirat.
Sesungguhnya kelalaian mengingat akhirat itu adalah penghambat segala kebaikan, kebajikan, dan merupakan pemicu setiap malapetaka dan kejahatan, Seseorang yang banyak mengingat akhirat, akan menyadarkan dirinya bahwa kehidupan sebenarnya, yang dia hidup selama-lamanya adalah kehidupan akhirat. Dengan demikian, hatinya lurus dalam mengendalikan jasad. Tindak tanduknya mencerminkan amal nyata yang ia tanam di dunia ini dengan harapan ia akan dapat menuai hasilnya yang baik di akhirat kelak.
Yang ketujuh. Membaca dan mempelajari sejarah kehidupan orang-orang yang shalih.
Ini pun bisa menjadi salah satu obat bagi hati. Banyak pelajaran tentang teguhnya hati dari hempasan badai kehidupan yang menerjang. Siapa saja yang memperhatikan dan mempelajari kehidupan atau sejarah suatu kaum berdasarkan pengetahuan dan penghayatan. maka niscaya hatinya dihidupkan kembali oleh Alloh  dan disucikan batinnya. Itulah sejarah dan perjalanan hidup Nabi  Sejarah kehidupan Beliau merupakan terapi untuk mempertebal iman dan memperbaiki hati.
 yang kedelapan.  Bersahabat dengan orang-orang shalih, bertakwa dan berbuat kebaikan.
Seseorang yang bergaul dengan orang yang bertakwa niscaya tidak celaka. Karena mereka tidak akan mengajak selain kepada kebaikan. Selamatlah hati dari terkena penyakit-penyakit hati. Sebaliknya, jika Anda bersahabat dengan orang-orang yang tidak shalih, tidak bertakwa dan tidak berbuat kebaikan, niscaya Anda akan celaka. Mereka akan mengajak Anda untuk melakukan berbagai kejelekan yang akan menyebabkan hati Anda menjadi kotor.
Alloh  secara tegas berfirman di dalam Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 28
Artinya “…Dan janganlah kamu mengikuti orang-orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya itu melewati batas”.

Pembaca yang Budiman, Demikianlah delapan obat untuk menyembuhkan penyakit hati, Berusahalah kita untuk memahami dengan baik dan mengamalkan dengan tekun, karena sesungguhnya kebahagiaan yang hakiki itu tidak akan dapat dicapai, kecuali dengan keselamatan dan kesucian hati. Dan tidak ada yang sempurna. yang lebih Bahagia, yang lebih baik, dan tidak ada pula yang lebih nikmat daripada kehidupan orang-orang yang berhati bersih juga mulia. Wallahu ‘alam
Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

PENGARUH SEDIKIT TIDUR TERHADAP KEJIWAAN_UST SOLAHUDIN

PENYAKIT HATI RIYA BAKHIL DAN KIKIR

Riya adalah berbuat kebaikan atau ibadah dengan maksud pamer kepada manusia, agar orang mengira dan memujinya sebagai orang yang baik atau gemar beribadah seperti sholat,  puasa, sedekah, dan sebagainya. Ciri-ciri orang yang mempunyai sifat riya ada tiga ciri:
Yang pertama
Apabila di hadapan orang dia giat tapi bila sendirian dia malas, dan selalu ingin mendapat pujian dalam segala urusan. Ini adalah salah satu sifat yang dimiliki oleh orang-orang munafik. Sebagaimana Alloh sebutkan dalam Qur’an Surat An-Nisa ayat 142
Artinya: “Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Alloh, tetapi Alloh-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk sholat mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria ingin dipuji, di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Alloh kecuali sedikit sekali.
Orang yang riya’, maka amal perbuatannya sia-sia belaka. Sebagaimana Firman Alloh  di dalam Qur’an Surat Al-Baqoroh ayat 264
Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia”.
Dan di dalam Firman Alloh  lainnya, di dalam Qur’an Surat Al-Maa’uun ayat 4 sampai dengan 6
Artinya, “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat karena riya”.
Rosululloh  juga bersabda:
“Sesungguhnya riya adalah syirik yang kecil. Hadits Riwayat Ahmad dan Al Hakim,
Imam Al Ghozali mengumpamakan orang yang riya itu sebagai orang yang malas ketika dia hanya berdua saja dengan rajanya. Namun, ketika ada budak sang raja hadir baru dia bekerja dan berbuat baik untuk mendapat pujian dari budak-budak tersebut.
Nah orang yang riya juga begitu. Ketika hanya berdua dengan Alloh  Sang Raja Segala Raja dia malas dan enggan beribadah. Tapi ketika ada manusia yang tak lebih dari hamba,  budak Alloh, maka dia jadi rajin sholat, bersedekah, dan sebagainya untuk mendapat pujian para budak. Adakah hal itu tidak menggelikan?
Agar terhindar dari riya, kita harus meniatkan di dalam hati kita segala amal hanya untuk Alloh  semata.
Bakhil alias Kikir alias Pelit adalah satu penyakit hati karena terlalu cinta pada harta sehingga tidak mau bersedekah.
Pada realitanya saat ini, diantara kita malah berlomba menggapai penyakit hati ini, dan lebih buruknya lagi, sebagian kita merasa senang dan betah dengan penyakit hati ini, padahal Alloh  jelas-jelas melarangnya.
Sebagaimana Firman Alloh  di dalam Qur’an Surat Ali-‘Imron ayat 180.
Artinya. “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Alloh berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Alloh-lah segala warisan yang ada di langit dan di bumi. Dan Alloh mengetahui apa yang kamu kerjakan”.  Perlu diingat kembali, segala harta kita termasuk diri kita adalah milik Alloh  Saat kita lahir kita tidak punya apa-apa. Telanjang tanpa busana. Saat mati pun kita tidak membawa apa-apa kecuali beberapa helai kain yang segera membusuk bersama kita.
Sesungguhnya harta yang kita simpan itu bukan harta kita yang sejati. Saat kita mati tidak akan ada gunanya bagi kita. Begitu pula dengan harta yang kita pakai untuk hidup bermegah-megahan seperti beli mobil dan rumah mewah.  Firman Alloh  di dalam Qur’an Surat Al-Lail ayat 8 sampai 11.
Artinya. “Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa”.
Perlu diingat kembali juga, yang justru jadi harta yang bermanfaat bagi kita di akhirat nanti, adalah harta yang kita belanjakan di jalan Alloh atau disedekahkan. Harta tersebut akan jadi pahala yang balasannya adalah istana surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Sebagaimana Firman Alloh  di dalam Qur’an Surat Al-hadiid ayat 21.
Artinya, “Berlomba-lombalah kamu kepada mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Alloh dan Rasul-rosul-Nya. Itulah karunia Alloh, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Alloh mempunyai karunia yang besar”.
Demikianlah pembahasan pada edisi kali ini mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya. Semoga Alloh  memelihara hati kita dari penyakit-penyakit hati yang tercela. Wallohu a’lam.
Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

PENYAKIT HATI SOMBONG, IRI DAN DENGKI  

Assalamu ‘alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلاَةُ والسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ, أمّا بَعْدُ

Hati adalah bagian yang sangat penting daripada manusia. Jika hati kita baik, maka baik pula seluruh amal kita. Rasulullah -Saws- bersabda, “…Bahwa dalam diri setiap manusia terdapat segumpal daging,apabila ia baik maka baik pula seluruh jasad, dan apabila ia itu rusak maka rusak pula seluruh jasad. Gumpalan daging itu adalah hati” Hadits Riwayat Imam Bukhori.

Sebaliknya orang yang dalam hatinya ada penyakit, akan sulit baginya untuk menerima kebenaran, dan ia akan mati dalam keadaan kafir. Sebagaimana Firman Alloh -Az- di dalam Qur’an Surat At-Taubah ayat 125
Artinya:  “Orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu menambah kekafiran mereka yang telah ada, dan mereka mati dalam keadaan kafir”
Penyakit hati jauh lebih berbahaya daripada penyakit fisik, karena bisa mengakibatkan kesengsaraan di neraka yang abadi.
Kita perlu mengenal beberapa penyakit hati yang berbahaya, serta bagaimana cara menyembuhkannya, di antaranya adalah:

Yang pertama ,Sombong.  yang menjadi realita pada akhir zaman ini, banyak orang yang karena jabatan, kekayaan, atau pun kepintaran, akhirnya menjadi sombong dan menganggap rendah orang lain. Padahal, Fir’aun yang takabbur, sampai-sampai menganggap rendah Alloh dan menganggap dirinya sebagai Tuhan. Kenyataannya Fir’aun adalah manusia yang akhirnya bisa mati karena ditenggelamkan di laut.
Alloh -Az- melarang kita untuk bersikap sombong, sebagaimana Firman Alloh -Az- di dalam Qur’an Surat Al-Isroo’ ayat 37.
Artinya: “Janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan mampu menjulang setinggi gunung”

Yang perlu kita ingat kembali , Alloh -Az- menyediakan neraka jahannam bagi orang yang sombong.  Sebagaimana Firman-Nya di dalam Qur’an Surat Al-Mu’min ayat 76
Artinya:  “Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong”
Kita tidak boleh bersikap sombong, karena saat kita lahir kita tidak punya kekuasaan apa-apa.  Kita tidak punya kekayaan apa-apa. Bahkan pakaian pun tidak. Kecerdasan pun kita tidak punya. Namun karena kasih-sayang orang tua-lah kita akhirnya jadi dewasa.
Begitu pula saat kita mati, segala jabatan dan kekayaan kita lepas dari kita. Kita dikubur dalam lubang yang sempit dengan dibalut pakaian seadanya yang nanti akan lapuk dimakan zaman.
Imam Al Ghozali mengatakan bahwa, “Manusia janganlah sombong, karena sesungguhnya manusia diciptakan dari air mani yang hina, dan dari tempat yang sama dengan tempat keluarnya kotoran”
Saat hidup pun kita membawa beberapa kilogram kotoran di badan kita. Jadi bagaimana mungkin kita masih bersikap sombong?

Yang kedua penyakit hati yang berbahaya adalah ‘Ujub, Kagum akan diri sendiri. Bisa karena kepintaran, ketampanan, ilmu,  ibadah dan lain sebagainya.
Ini mirip dengan sombong. Kita merasa bangga atau kagum akan diri kita sendiri. Padahal seharusnya kita tahu bahwa semua nikmat yang kita dapat itu berasal dari Alloh -Az- . Jika kita mendapat keberhasilan atau pujian dari orang, janganlah ‘ujub. Sebaliknya ucapkan “Alhamdulillah” karena segala puji itu hanya untuk Alloh -Az-

Yang ketiga, Iri dan Dengki.
Alloh -Az- melarang kita iri pada orang lain, karena rezeki yang mereka dapat itu sesuai dengan usaha mereka dan juga sudah jadi ketentuan Alloh -Az- Yang menjadi realita keadaan masyarakat pada saat ini, kebanyakan mempunyai penyakit hati iri dan dengki ini, mereka tidak merasa senang ketika ada tetangga atau saudaranya dalam keadaan senang. Dan malah jadi sebaliknya, ketika tetangga atau saudaranya dalam keadaan sulit, baru ia merasa senang dan bertepuk tangan. Na’udzubillahi min dzalik.

Alloh -Az- berfiman: di dalam Qur’an Surat An-Nisa ayat 32, yang artinya:
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Alloh kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. Karena bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Alloh sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu” .
 Perlu kita ingat, ada dua sikap iri yang diperbolehkan oleh syari’at yang lebih dikenal dengan nama ghibthoh, yaitu dalam hal bersedekah dan ilmu. Sebagaimana Rosululloh -Saws- bersabda:

“Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Alloh harta lalu dia belanjakan pada jalan yang benar, dan seorang diberi Alloh ilmu dan kebijaksanaan lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya”. Hadits Riwayat Bukhori.
Jika kita mengagumi milik orang lain, agar terhindar dari iri hendaknya mendoakan agar yang bersangkutan dilimpahi berkah,  Sebagaimana sabda Rosululloh -Saws-

“Apabila seorang melihat dirinya, harta miliknya atau saudaranya sesuatu yang menarik hatinya dikaguminya maka hendaklah dia mendoakannya dengan limpahan barokah. Sesungguhnya pengaruh iri adalah benar. Hadits Riwayat Abu Ya’la.

Dengki lebih parah dari iri. Orang yang dengki ini merasa susah jika melihat orang lain senang. Dan merasa senang jika orang lain susah. Tak jarang dia berusaha mencelakakan orang yang dia dengki baik dengan lisan, tulisan, atau pun perbuatan. Oleh karena itu Alloh -Az- menyuruh kita berlindung dari kejahatan orang yang dengki.
Yang perlu kita waspadai, kedengkian bisa menghancurkan pahala-pahala kita. Sebagaimana sabda Rosululloh -Saws-

“Waspadalah terhadap hasad, iri dan dengki, sesungguhnya hasad memakan dan melumat kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar” Hadits Riwayat Abu Dawud.
Demikianlah pembahasan kita pada edisi kali ini, mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya. Semoga Alloh -Az- memelihara hati kita dari penyakit-penyakit hati yang tercela. Wallohu a’lam.

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Niat dan Ikhlas

Tazkiyatun Nafs –  “Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang ia niatkan…” (HR.  Bukhori dan Muslim)
Pendengar yang budiman. Alasan mengapa banyak ulama yang mengawali berbagai buku dan karangannya dengan hadits ini, di antaranya Imam Bukhori dalam kitab shahihnya, dan Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin, Al-Adzkar, dan Al-Arba’in An-Nawawiyah, adalah agar kita menyadari betapa pentingnya niat, sehingga kita akan meluruskan niat kita hanya karena Alloh Ta’ala, baik ketika menuntut ilmu atau melakukan perbuatan baik lainnya.
Agama bertumpu pada dua hal, pertama. Sisi lahiriyah atau perbuatan, dan yang kedua. Sisi batiniyah atau niat.
Dalam ibadah inti, seperti Sholat, Haji, dan Puasa, keberadaan niat merupakan rukun. Sehingga amalan tersebut tidak akan bernilai ibadah jika tidak diiringi dengan niat. Namun kenyataannya niat saja tidak cukup. Semua perbuatan baik dan bermanfaat, jika diiringi niat yang ikhlas dan hanya mencari keridhoan Alloh  . Jika sudah demikian barulah perbuatan tersebut bernilai ibadah.
Niat adalah ruh amal, inti dan sendinya Amal mengikuti niat. Amal menjadi benar karena niat yang benar, dan amal menjadi rusak karena niat yang rusak.
Nabi  telah menyampaikan dua kalimat yang mendalam yang mengandung ilmu, yaitu, “Sesungguhnya amal-amal itu hanya bergantung pada niat-niat, dan seseorang hanya memperoleh menurut apa yang diniatkan”.
Dalam kalimat pertama beliau sholallohu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa amal tidak ada artinya tanpa niat. Maka dari itu tidak disebut amal jika tanpa niat. Dalam kalimat kedua Beliau menjelaskan, bahwa orang yang melakukan suatu amal tidak memperoleh apa-apa kecuali menurut niatnya. Hal ini mencakup berbagai ibadah, muamalah, iman, nadzar, perjanjian, dan tindakan apa pun.
Keberadaan niat harus disertai pembebasan dari segala keburukan, nafsu dan keduniaan, harus ikhlas karena Alloh  dalam setiap amal-amal akhirat, agar amal itu diterima di sisi Alloh  . Namun mewujudkan ikhlas bukanlah perkara yang mudah. Jangan mengira bahwa ikhlas itu bisa diperoleh setiap tangan yang menghendakinya, dan bahwa ikhlas itu bisa diperoleh dengan usaha yang sederhana tanpa harus bersusah payah. Ini jauh sama sekali dari hakikat. Yang pasti, mewujudkan ikhlas itu bukan pekerjaan yang mudah seperti anggapan orang-orang yang biasa bertindak hanya berdasarkan kepada permukaan yang tampak, tidak dengan kandungan, atau bertindak dengan bungkus dan bukan dengan arti.
Orang-orang arif yang meniti jalan kepada Alloh  telah menegaskan sulitnya ikhlas dan beratnya mewujudkan ikhlas itu di dalam jiwa, kecuali orang yang memang dimudahkan oleh Alloh  . Membersihkan jiwa dari hawa nafsu yang tampak maupun tersembunyi, membersihkan niat dari berbagai noda, nafsu pribadi dan duniawi, juga tidak mudah. Meredam egoisme, kecintaan kepada diri sendiri, cinta dunia dan keinginan untuk mendapatkan tujuan secara langsung, adalah pekerjaan yang amat besar.
Oleh karena itu perlu usaha maksimal, selalu memperhatikan pintu-pintu masuk bagi syaithon ke dalam jiwa, membersihkan jiwa dari unsur-unsur riya’, kesombongan, gila kedudukan, suka berpenampilan dan pamer. Sebab unsur-unsur seperti ini lebih banyak menguasai jiwa manusia. Maka dari itu seorang Rabbani pernah ditanya, dia adalah Sahl bin Abdullah At-Tustary, “Apakah sesuatu yang paling berat bagi jiwa”?. Maka dia menjawab, “Ikhlas. Sebab ia tidak mendapatkan bagian apa-apa”.
Yusuf bin Al-Husain Ar-Razy berkata, “Sesuatu yang paling mulia di dunia adalah ikhlas. Berapa banyak ikhlas menggugurkan riya’ dari hati. Seakan-akan ia menumbuhkan warna lain di dalamnya”.
Yahya bin Abu Katsir juga berkata, “Belajarlah niat, karena niat itu lebih penting daripada amal”.
Sufyan Ats-Tsaury juga berkata, “Tidak ada yang lebih sulit kutuntaskan pada diriku selain niat. Sebab niat itu bisa berubah menjadi dosa atas diriku”.
Daud Ath-Tha’y juga berkata, “Saya melihat semua kebaikan bertumpu pada niat yang baik”.
Yusuf bin Asbath juga berkata, “Membebaskan niat dari kerusakannya lebih sulit bagi orang-orang yang beribadah daripada berjihad dalam jangka waktu yang lama”.
Abdullah bin Al-Mubarak juga berkata, “Berapa banyak amal yang remeh menjadi besar gara-gara niat, dan berapa banyak amal yang besar menjadi remeh gara-gara niat”.
Pendengar. Para Ulama tersebut berkata seperti itu, karena sulitnya membebaskan diri dari nafsu. Karena para Ulama sangat menyadari bahwa Alloh Ta’ala tidak akan menerima hati yang dirasuki tujuan lain, tidak menerima amal yang dirasuki tujuan lain, Alloh Ta’ala hanya menerima amal yang murni karena mengharap keridhaan-Nya semata. Sekali lagi niat bukanlah perkara sepele, dan mewujudkan keikhlasan bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, mari kita kembali memperhatikan niat kita dalam segala bentuk amal dan Ibadah kita, karena niat adalah dasar amal dan kebaikan. Agar, amal perbuatan dan Ibadah kita bernilai pahala yang murni di sisi Alloh Ta’ala.
Demikianlah pembahasan kita pada edisi kali ini, mudah-mudahan kita dapat mengambil pelajaran dan hikmahya, dan kita bisa mengaplikasikan di dalam kehidupan kita sehari-hari, agar kita menjadi manusia yang bernilai di sisi Alloh Ta’ala. Aamiin. Wallohu a’lam.

BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA MERUPAKAN PINTU SURGA

Berbakti atau berbuat baik kepada kedua orang tua adalah pintu surga diantara pintu-pintu surga yang lainnya. dengan bakti kita kepada kedua orang tua, maka kita telah dijamin surga oleh Allah selama kita berada di jalan tauhid.
Dari Abu Darda  ,Rasulullah  bersabda.
الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ
Orang tua adalah pintu surga paling tengah.jika mau, Kalian bisa sia-siakan pintu itu,atau kalian bisa menjaganya. (Hadits riwayat Ahmad, Turmudzi, dan Ibnu Majah.
Berkaitan dengan hadits ini, Al-Qadhi Baidhawi berkata. Makna hadis, bahwa cara terbaik untuk masuk surga,dan sarana untuk mendapatkan derajat yang tinggi di surga adalah mentaati orang tua dan berusaha mendampinginya. Ada juga ulama yang mengatakan,‘Di surga ada banyak pintu. Yang paling nyaman dimasuki adalah yang paling tengah. Dan sebab untuk bisa masuk surga melalui pintu tengah itu adalah dengan menjaga hak orang tua.
Berkaitan dengan bakti kepada kedua orang tua, ada sebuah riwayat yang terdapat di dalam shahih bukhori bahwa Suatu ketika Ibnu Umar  bertanya kepada seseorang.“Apakah engkau takut masuk neraka dan ingin masuk ke dalam surga?.”
Orang itu menjawab,“Ya.” Ibnu Umar berkata, “Berbaktilah kepada ibumu. Demi Allah,jika engkau melembutkan kata-kata untuknya,memberinya makan, niscaya engkau akan masuk surga selama engkau menjauhi dosa-dosa besar.”
Subhanallah, Dewasa ini sering kita saksikan banyak orang yang melakukan ritual-ritual ibadah yang menyimpang karena kebodohan mereka, dengan tujuan agar terhindar dari api neraka dan mendekatkan diri ke surga. Padahal kalau mereka tahu,sebenarnya alangkah dekatnya mereka dengan surga. Ya, Semua itu bisa mereka raih dengan berbakti kepada kedua orang tua .
Penting untuk kita renungkan bahwa  berbakti kepada kedua orang tua adalah sebab kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat. Maka selayaknya kita berusaha agar bisa meraih kebahagiaan itu selagi orang tua kita masih hidup.
Sungguh merugi jika kita mengetahui dekatnya surga dengan berbakti kepada kedua orang tua, tetapi kita malah melalaikannya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Rasulullah  juga bersabda.“Celaka, celaka, celaka!.”
Ada yang bertanya,”Siapa yang celaka wahai Rasulullah?.”
Beliau menjawab,“Orang yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya telah berusia lanjut, tetapi tidak membuatnya masuk ke dalam surga.”
Marilah kita simak kisah penuh hikmah tentang pentingnya berbakti kepada orang tua.
Salim bin Ayyub bercerita.“Aku pernah mengadakan perjalanan ke kota Ray, ketika itu usiaku dua puluh tahun. Di sana aku menghadiri suatu majelis dengan seorang syaikh yang sedang mengajar. Syaikh itu berkata kepadaku,‘Maju dan bacalah.’ Aku berusaha membacanya tetapi aku tidak bisa. Lidahku kelu.
Ia bertanya, ‘Apakah kamu punya ibu?.’
Aku menjawab,‘Ya.’
Syaikh berkata,‘Kalau begitu, mintalah ia supaya mendoakanmu agar Allah menganugerahkanmu Al-Qur`anul-Karim dan ilmu.’
Lantas aku pulang menemui ibuku dan memintanya berdoa, Maka ia berdoa untukku.Setelah tumbuh dewasa, suatu ketika aku pergi ke Bagdad. Di sana aku belajar bahasa Arab dan fikih,kemudian aku kembali ke kota Ray.
Ketika di Kota ray, aku bertemu dengan Syaikh yang dahulu menasihatiku untuk meminta doa ibu. Syaikh itu sudah tidak mengenaliku dan terkagum-kagum dengan kemampuan hafalanku. kemudian ia bertanya bagaimana aku bisa menghafal dengan bagus? Maka aku mengulangi nasihatnya dulu.
Lihatlah, betapa besar pengaruh doa seorang ibu tehadap anaknya. oleh karena itu, jangan sungkan untuk selalu minta doa dan restu orang tua. disamping bakti kita kepada mereka.
Semoga kita menjadi anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tua kita. sehingga bisa memasuki pintu surga dengan leluasa. Amin.
BANNER 728X90
Copyright © | by: Me